Minggu, Reminiscere, 16 Maret 2025

Evangelium: Mazmur 27: 1–6

Pdt. Bayu T. S. Siahaan, S.Th

Pendeta GKPI Resort Ambarita

  1. PENDAHULUAN

‘Satu musuh terlalu banyak, seribu teman terlalu sedikit.’ Ungkapan yang sering kita dengar ini salah satunya hendak menunjukkan bahwa satu orang musuh sudah cukup membuat kita menderita. Indikatornya salah satunya adalah membuat hidup kita tidak nyaman, atau pun membuat kita merasa terancam (tidak aman), sehingga terkadang menimbulkan kecemasan berlebihan. Jika hati dan pikiran terlalu sering dilintasi perasaan demikian, maka tidak jarang orang-orang akan stress dan jatuh sakit. Belum lagi jika musuh kita itu memiliki kedudukan, yang kita anggap, lebih tinggi dari kita, sehingga memiliki kuasa untuk menggerakkan orang-orang lain untuk memusuhi kita, maka hal tersebut tentu akan menambah penderitaan. Saudara/i, pernahkan anda dalam situasi dan kondisi demikian? Jika pernah, apa yang anda lakukan?

  1. PENJELASAN NATS

Mazmur 27 tergolong dalam Mazmur-mazmur ratapan dan permohonan individual (penggunaan kata ganti orang pertama). Individu yang meratap dan memohon, sekaligus penyair mazmur ini adalah Daud. Mengapa ia meratap lalu memohon? Adalah karena musuh-musuhnya. Dan salah satu dari antara musuhnya adalah seorang raja, yaitu Saul, raja Israel, yang memerintah bangsa pilihan TUHAN. Awalnya Saul sangat mengasihi Daud (1 Sam. 16:21), tetapi setelah kedengaran ke telinga Saul nyanyian: ‘Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa’, maka sejak saat itu Saul mendengki Daud (1 Sam. 18:6-9). Roh jahat berkuasa atas Saul yang ditunjukkan dari tindakan-tindakannya yang tidak hanya sekali, tetapi berulang kali mencoba hendak membunuh Daud. Tidak tanggung-tanggung, Saul menggunakan kekuasaannya, yaitu dengan memerintah pasukan-pasukannya mengejar dan mencari kemana pun Daud pergi. Hal tersebut menyebabkan Daud harus pergi dari kampungnya, kabur melarikan diri. Dalam beberapa titik pelariannya, ia pernah bersembunyi di sebuah gua, juga pernah di kubu-kubu gunung. Saudara/i, bisakah kita merasakan betapa tertekannya Daud pada saat itu? Sanking tertekannya, sehingga ia mengatakan: ‘… tentara berkemah mengepung aku (ay. 3a)’, yang dalam pengertian yang sama ‘musuhku (sudah) sekeliling aku’ (ay. 6a), yang menunjukkan bahwa tidak ada lagi tempat bersembunyi. Bahkan lebih dari pada itu, Daud sudah merasakan dimana ‘ketika penjahat-penjahat menyerang aku untuk memakan dagingku’ (ay. 2a), yang dalam pengertian yang sama ‘sudah sangat dekat dengan kematian!’ Sekali lagi situasi tersebut hendak menegaskan, betapa mencekamnya situasi yang dialami Daud.

Menurut saudara/i, di konteks demikian, mungkinkah pernah terlintas di pikiran Daud suatu penyesalan bahwa jika seandainya ia tidak maju ke medan perang melawan Goliat dan menang, maka ia tidak akan mengalami penderitaan sesakit itu? Bersamaan dengan pertanyaan tersebut, pernahkah saudara/i berada dalam posisi seterdesak Daud, lalu menyesali perbuatan yang terlanjur anda lakukan yang menyebabkan anda berada dalam bahaya? Jika pernah, maka toh saja semua itu sudah tidak ada lagi gunanya pada saat itu, bukan? Dan rasa takut atau pun khawatir sepertinya sudah kadung menguasai kita pada saat itu, yang berhubungan dengan ‘apa yang harus kita lakukan menghadapinya/menyikapinya?’ Tahap itu lah yang menentukan! Bahwa ketika jalan sepertinya sudah buntu, Daud menyerahkan sepenuhnya hidupnya (nyawanya) hanya kepada TUHAN. Disini kuncinya! Jangan bimbang dan jangan ragu, bahwa jika kita sudah mencapai titik terendah dalam hidup, mari, serahkan sepenuhnya hidup mati kita kepada TUHAN (bnd. Mzm. 37:5). Demikian lah diimani Daud, dan TUHAN menyertainya. Penyertaan TUHAN itu lah yang Daud ungkapkan, katanya: ‘TUHAN adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? TUHAN adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar?’ (ay. 1). Ada setidaknya tiga hal yang bisa kita maknai dari pengakuan Daud tersebut, yaitu:

  1. TUHAN adalah terangku, memperlihatkan bahwa jika bukan karena TUHAN, maka situasi mencekam yang dialaminya itu akan membuat hati dan pikirannya akan terus diliputi kegelapan. Sikap yang pesimistis akan terus merongrong, tetapi terang TUHAN menjadikan optimis, penuh semangat serta berpikir jernih.
  2. TUHAN adalah keselamatanku, membuktikan bahwa jika bukan karena TUHAN, maka kehidupan Daud tentu sudah akan berakhir pada kematian (memakan dagingku – ay. 2a).
  3. TUHAN adalah benteng hidupku, memastikan bahwa jika bukan karena TUHAN, maka Daud tidak akan mampu bertahan hidup sejauh hingga ia mengalami klimaks pergumulannya yang TUHAN izinkan terjadi. Dan ujung dari yang sedang dihadapinya itu: TUHAN membuat semua musuhnya tergelincir sendiri dan jatuh (ay. 2b).

Tindakan TUHAN yang menerangi, menyelamatkan dan membentengi Daud kemudian menuntun Daud untuk merasakan kehadiran TUHAN lebih dekat lagi. Dimanakah itu? Di RUMAH TUHAN (ay. 4). Penyertaan TUHAN mendorong Daud terus dan senantiasa rindu berada di Rumah TUHAN, yang dalam kepercayaan umat Israel, berdiam dalam Rumah TUHAN sama halnya dengan berjumpa TUHAN yang bertakhta disana. Berdiam dalam Rumah TUHAN sama halnya menciptakan rasa dekat dengan TUHAN. Dekat dengan TUHAN terutama maksudnya adalah aman dalam perlindungan TUHAN (ay. 5)! Dari sana lah TUHAN menyatakan kemurahan-Nya, yaitu menerangi, menyelamatkan dan membentengi siapa pun yang senantiasa bergantung pada-Nya (ay. 4). Jika sudah berdiam di dalam Rumah TUHAN, tidak bisa tidak, akan timbul dari hati yang meluap-luap, demikian Daud rasakan, yaitu sorak-sorai bernyanyi dan memuji TUHAN, yang dinyatakan dengan mempersembahkan korban (bakaran) terbaik kepada TUHAN (ay. 6). 

  1. RENUNGAN

Saudara/i terkasih dalam Tuhan Yesus, Tuhan kita!

Jika saudara/i merasa sehat pagi ini, setelah tadi malam tidur pulas, dan hendak akan makan dengan lahapnya karena sudah merasa lapar, untuk kemudian pergi bekerja, semuanya itu mengkonfirmasi bahwa kita sedang menyaksikan dan menikmati kemurahan TUHAN, sekaligus sebagai bukti penyertaan TUHAN senantiasa dalam hidup kita. Demikian hari demi hari kita lalui, yang di dalamnya suka dan duka datang silih berganti, lalu semuanya tetap baik-baik saja, maka hal tersebut menunjukkan bahwa TUHAN senantiasa berkarya menerangi hati dan pikiran kita, menyelamatkan kita dan membentengi kita dari bahaya. Imani lah sedemikian, jangan ragu dan jangan bimbang, saudara/i terkasih, terutama karya TUHAN dalam Tuhan Yesus Kristus yang sudah membebaskan kita dari dosa dan kematian. Atas segala kemurahan TUHAN tersebut, jangan pernah lupa, ingat lah TUHAN senantiasa dalam hidup kita, seperti Daud. Ingat lah TUHAN senantiasa kala terdesak/terancam juga kala aman/nyaman. Kesimpulannya, bahwa keberadaan kita hingga saat ini adalah karena penyertaan TUHAN.

Salah satu wujud konkrit dari betapa ingatnya kita kepada TUHAN, sebagaimana ditunjukkan Daud adalah keinginan/kerinduan berada di Rumah TUHAN – Gereja. Itu artinya, mari lah kita ke Gereja yang adalah Rumah TUHAN, bukan karena Pendeta, Penatua, Warga Jemaat, maupun Bangunannya, tetapi adalah karena TUHAN yang bermurah hati menerangi, menyelamatkan dan membentengi hidup kita senantiasa. Jika kita sudah sedemikian ber-Gereja, maka sebagaimana Daud, tidak bisa tidak, akan timbul dari hati yang meluap-luap, demikian Daud rasakan, yaitu sorak-sorai bernyanyi dan memuji TUHAN, yang dinyatakan dengan mempersembahkan persembahan terbaik kepada TUHAN. Persembahan terbaik yang dimaksud antara lain talenta/bakat, ide/gagasan, tenaga/kekuatan, kedudukan/jabatan dan juga materi/uang yang kita miliki untuk sebesar-besarnya menyatakan kehendak TUHAN di tengah-tengah alam ciptaan-Nya ini. Terpuji lah TUHAN atas kemurahan-Nya kepada seluruh umat ciptaan-Nya. AMEN.

Categories: Bahan Khotbah

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *