DIPERLENGKAPI UNTUK SETIAP PERBUATAN BAIK
Evangelium: 2 Timotius 3: 10-17
Pdt. Sudir Anton Silaban, S.Th
- PENDAHULUAN
Surat 2 Timotius ditulis Paulus ketika dia berada dalam penjara di Roma. Dalam rasa kesepian dan firasat kematian, Paulus amat merindukan kedatangan Timotius bersama dengan dia pada waktu terakhir dalam hidupnya. Maksud surat ini agak berbeda dengan surat sebelumnya, tidak menyangkut pekerjaanya sebagai pekabar injil, melainkan pandangan dan perilaku secara pribadi. Salah satu bagian penting dalam surat 2 Timotius ini adalah nasihat Paulus kepada Timotius untuk tetap mengingat Kitab Suci yang pernah diajarkan kepadanya pada masa kecilnya dan mengajarkannya kepada semua orang, karena Kita Suci sangat bermamfaat bagi kehidupan orang percaya.
- PENJELASAN NAS
Dalam ayat sebelumnya ayat 1-4 Paulus mengingatkan bahwa pada hari terakhir akan datang masa sukar. Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan mnyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterimakasih, tidak memedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka menghianati, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu daripada menuruti Allah.
Dalam perikop ini Paulus mengingatkan kita para hamba Tuhan supaya menggembalakan dan memimpin jemaat ke arah tujuan yang benar, supaya orang-orang kristen menghindari perilaku yang seperti itu. Marilah kita menaati kebenaran, agar orang Kristen mengikuti teladan yang benar. Kata “…kamu telah mengikuti Aku dalam pengajaran-Ku, …” (ay.10), berasal dari kata Yunani parakolouthein, yang berarti “mengikuti ke mana pun”. Kita pun di ajak mengikuti teladan Paulus, bagaimana ia selalu teguh dalam iman, bagaimana ia menjaga hati dengan perilaku yang baik, bagaimana ia mampu bertahan dalam penderitaan (2 Korintus 11:23-25). Dari pengalamannya, meskipun Paulus dianiaya dan menderita dia tetap bertahan dari semua itu, dan pada akhirnya Allah menyelamatkannya dari segala aniya dan penderitaan (ay. 11).
Dalam ayat 16 dijelaskan bahwa mamfaat Kitab Suci itu bagi orang percaya:
- Untuk Mengajar
Untuk mencapai tujuan hidup yang benar, salah satu aspek penting yang harus dimiliki orang percaya adalah sumber ajaran yang benar. Satu-satunya sumber ajaran yang benar dan dipercayai adalah Kitab Suci, karena Kitab Suci diilhamkan oleh Allah. Dalam 2 Timotius 3:16, Paulus menguraikan satu tanggungjawab Timotius yang sangat penting dalam menghadapi ajaran sesat yaitu mengajarkan ajaran yang benar. Timotius sebagai pengajar terlebih dahulu telah mendapat ajaran Kitab Suci yang benar baik dari keluarganya maupun dari Paulus, sehingga sekarang ia harus menerapkan itu kepada jemaat yang dipimpinnya.
Hal yang sama juga bagi orang percaya masa kini, ajaran Alkitab yang sudah didapkan dari para Hamba Tuhan sangat berguna untuk menuntun orang percaya hidup dalam kehendak Allah. Ajaran yang terdapat dalam Alkitab, memampukan orang percaya memahami mana ajaran yang salah dan benar. Untuk itu, orang percaya masa kini harus mendisplinkan diri untuk terus belajar Alkitab secarta pribadi atau bersama keluarga di rumah, karena ajaran Alkitab kekal adanya dan mamfaatnya tidak pernbah usang.
- Untuk Menegur
Dalam konteks surat Paulus kepada Timotius, teguran yang dimaksud disini adalah teguran atas kesalahan-kesalahan para pengajar sesat. Timotius harus menjauhi dirinya dari penagaran atau kepercayaan yang tidak benar dalam hal ini adalah cerita-cerita takhayul nenek tua atau mitos, tetapi melatih dirinya dalam kesalehan (1 Tim. 4:8). Dijelaskan bahwa mitos-mitos dan takhayul inilah yang dipercaya i oleh para penyesat, mereka lebih mempercaya ini daripada ajaran Injil. Maka Timotius harus menjauhkan diri dari hal-halk ini. Sehingga ia dan jemaat yang dipimpinnya tidak mudah disesatkan dengan ajaran yang tidak benar, namun menegor mereka dan membuktikan kesalahan mereka.
- Untuk Memperbaiki
Kitab Suci itu memperbaiki atau mengoreksi kita dari perbuatan dosa dan kesalahan kita. Selama kita hidup di dunia ini terkadang kita terjerumus dalam dosa dan kesalahan. Oleh Karena itu orang percaya yang hidupnya sungguh-sungguh mempelajari Kitab Suci tidak akan membiarkan dirinya terus hidup dalam kesalahan dan dosa. Memang koreksi tidak menyenangkan, tetapi alangkah malangnya kehidupan orang percaya jika tidak lagi diuabahkan oleh Tuhan melalui Firman-Nya. Jadi Kitab Suci bermamfaat untuk memperbaiki perilaku kita.
- Untuk Mendidik dalam Kebenaran
Kitab Suci adalah posisi tertinggi dalam pendidikan hidup orang percaya. Didikan dalam Kitab Suci mengarahkan orang percaya hidup dalam kebenaran. Didikan ini juga yang paling tulus seperti didikan seorang ayah kepada anak yang dikasihinya. Kitab Suci mendidik dalam kebenaran artinya orang percaya dituntun untuk memiliki karakter yang benar, jujur dan bertahan dalam kebenaran Allah walaupun ada konsekuensi yang harus dialami. Hal ini bisa didapatkan oleh orang percaya jika mempelajari Kitab Suci dengan baik dan benar.
Dalam ayat 17 ungkapan “manusia kepunyaan Allah” bahasa Yunaninya ho tou Theou anthropous merujuk kepada setiap orang percaya artinya orang-orang percaya adalah kepunyaan Allah dan disempurnakan melalui Kitab Suci untuk melakukan kebaikan. Sehingga setiap orang yang merupakan kepunyaan Allah diperlengkapi dengan petunjuk-petunjuk dalam Firman Allah, supaya ia dapat melakukan setiap perbuatan baik dan ini berlaku untuk semua orang.
- RENUNGAN
Dalam 2 Timotius 3; 10-17 ini mengingatkan kita bahwa Firman Allah adalah bekal utama orang percaya. Tanpa Firman, iman kita rapuh, tetapi dengan Firman kita dimampukan menghadapi penderitaan. Firman itulah yang memperlengkapi kita untuk setiap perbuatan baik. Semakin baik orang percaya mengenal Firman Allah, semakin baik pula setiap perbuatannya. Amin
0 Comments