: Tuhan Mendengar seruan hambaNya

Evanggelium   : Nehemia 1: 1

Pdt. Sembiyun Hutabarat. S.Th

1. Pendahuluan

Pernahkah kita mendengar berita buruk yang membuat hati kita hancur? Misalnya, seorang anak yang merantau mendengar kabar bahwa rumah orangtuanya di kampung terbakar. Atau seorang bapak yang bekerja di luar kota mendapat kabar bahwa keluarganya jatuh sakit. Reaksi pertama tentu bukan langsung mencari solusi, tetapi hati kita remuk, lalu kita menangis, berdoa, bahkan mencari kekuatan dari Tuhan. Demikian juga Nehemia. Ia hidup nyaman di istana Persia sebagai juru minuman raja. Tetapi ketika ia mendengar berita bahwa tembok Yerusalem masih roboh dan umat Allah dalam kesusahan, hatinya tidak tahan. Ia menangis, berpuasa, dan berdoa.

Kitab Nehemia ditulis dalam konteks pasca-pembuangan, yakni setelah bangsa Israel kembali dari pembuangan di Babel (539 SM) di bawah pemerintahan Persia. Nehemia hidup pada abad ke-5 SM, tepatnya ketika Artahsasta I (465–424 SM) berkuasa. Pada masa itu, sebagian orang Yahudi sudah kembali ke Yerusalem namun kondisi kota Yerusalem, khususnya temboknya, masih hancur dan rentan dari serangan musuh. Walaupun bangsa Israel telah kembali dari pembuangan, mereka belum sepenuhnya merdeka. Mereka masih berada di bawah kekuasaan Persia, dan secara sosial-politik menghadapi tantangan besar.Nehemia bukanlah imam atau nabi, melainkan seorang pejabat istana Persia, “juru minuman raja” (Neh. 1:11), sebuah posisi strategis yang menunjukkan kedekatan dengan raja. Dari posisinya ini, Nehemia memperoleh informasi tentang keadaan Yerusalem, yang akhirnya membakar hatinya untuk memimpin pemulihan rohani dan pembangunan kembali tembok kota.

2. Penjelasan Nas

Nehemia putra Hakhalya sedang berada di sedang berada di puri Susan (Ibukota musim dingin kerajaan Persia) pada bulan Kislew. Ini adalah bulan yang ke-9 dalam kalender Ibrani. Saat itu Nehemia menerima laporan tentang Yerusalem bahwa temboknya masih roboh, pintu-pintu terbakar, dan orang Yahudi dalam kesusahan. Tembok yang roboh yang dimaksud bukan sekadar masalah fisik, tetapi juga simbol runtuhnya identitas, keamanan, dan martabat umat Allah. Ketika Nehemia menerima berita tentang Yerusalem, Nehemia meresponnya dengan meratap, berdoa dan berpuasa. Nehemia turut merasakan penderitaan bangsanya meski secara pribadi hidupnya nyaman di istana. Nehemia fokus kepada Allah, bukan pada masalah yang dihadapi bangsa Israel sehingga Nehemia memulai doanya dengan pengakuan iman akan kebesaran Allah. Nehemia mengingatkan diri sendiri dan bangsa Israel bahwa Allah selalu setia pada perjanjian-Nya bagi yang mengasihi Dia. Dalam doanya Nehemia memohon kepada Tuhan agar mendengarkan doanya. Dalam doanya Nehemia mengakui bahwa dirinya dan bangsanya berdosa. Dia jujur di hadapan Tuhan dan mengakui bahwa Nehemia dan Bangsa Israel tidak taat terhadap hukum Taurat. Nehemia bersandar pada janji Allah yang tertulis dalam Taurat ( Ul. 30:1–5). Dalam doanya Nehemia mengingatkan Allah akan janji pemulihan, walaupun bangsa itu tercerai-berai, Allah berjanji mengumpulkan mereka kembali. Nehemia menjadikan firman Tuhan sebagai dasar iman dalam doanya. Akhirnya Nehemia menutup doanya dengan permohonan yang konkret agar di hadapan raja bangsa Israel menerima belas kasih dan keberhasilan sebab bangsa itu adalah milik Allah yang telah ditebus dengan tangan yang kuat. Sebagai “juru minuman raja,” Nehemia berada dalam posisi strategis untuk memohon izin dan dukungan bagi pembangunan kembali Yerusalem.

3. Aplikasi

a.   Nehemia menunjukkan bahwa setiap pelayanan besar dimulai dari doa. Nehemia bisa saja cuek. Ia punya jabatan tinggi, gaji cukup, dan hidup nyaman. Tetapi ketika mendengar berita buruk, dia tidak langsung berangkat membangun tembok  tetapi Nehemia terlebih dahulu duduk, menangis, berpuasa, dan berdoa kepada Allah. Oleh karena itu, dalam setiap pelayanan gereja, perbaikan relasi keluarga, ataupun perjuangan ekonomi, harus dimulai dengan doa. Bukan sekadar strategi manusia, melainkan melibatkan Allah sebagai pusat.

b. Nehemia tidak menempatkan dirinya sebagai orang “luar” yang lebih baik. Dia mengaku: “aku dan kaum keluarga ayahku telah berbuat dosa” (ay. 6).  Ia memikul dosa bangsanya bersama-sama. Oleh karena itu,  kepemimpinan bukan hanya soal memerintah, tetapi ikut merasakan penderitaan, kegagalan, dan harapan umat.

c. Doa Nehemia penuh dengan pengakuan dosa. Ia sadar bahwa kehancuran Yerusalem bukan hanya akibat politik, tetapi karena dosa umat. Dalam hidup ini banyak kesulitan kita sebenarnya terkait dengan sikap hati yang menjauh dari Allah. oleh karena itu,  Pemulihan akan datang jika kita berani merendahkan diri, mengaku, dan berbalik kepada Tuhan.

d. Nehemia mendasarkan doanya pada firman Tuhan (ay. 8–9). Ia yakin Allah setia pada janji-Nya untuk memulihkan umat. Oleh karena itu, ketikan kita dalam penderitaan, jangan hanya mengingat masalah, tetapi berpeganglah pada janji Allah dalam firman. Ketika ekonomi keluarga tertekan atau kesehatan menurun, bacalah dan doakan janji-janji Allah.

e. Nehemia berdoa, tetapi ia juga bersiap bertindak dengan meminta belas kasih di hadapan raja (ay. 11). Ia tidak hanya berdoa pasif, melainkan melangkah dengan iman. oleh karena itu, doa bukan alasan untuk berdiam diri. Setelah berdoa, kita dipanggil untuk bekerja, melangkah, dan berani menghadapi tantangan.

4. Penutup

Hari ini apapun pergumulan kita baik itu kesulitan ekonomi, sakit penyakit, konflik keluarga, atau perasaan lemah iman, mari datang kepada Tuhan dengan hati yang hancur, dengan pertobatan, dan dengan berpegang pada janji firman. Percayalah, Tuhan mendengarkan seruan hamba-Nya. Tuhan yang mendengar doa Nehemia di istana Persia, juga mendengar doa kita di tempat ini. Amin.

Categories: Bahan Khotbah

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *