Fajar Manase Hasudungan Panggabean, S.Th

Vikaris GKPI Jemaat Klaten, Resort DIY-Jawa Tengah (2024/2025)


Pendahuluan

Salib tentu tidak asing bagi orang Kristen, sebab orang Kristen meyakini bahwa Allah menganugrahkan jalan keselamatan melalui kematian Yesus di atas kayu salib. Collins dan Farrugia mengatakan bahwa salib Kristus adalah pusat kehidupan orang Kristen di mana melalui kematian Yesus di  kayu salib membawa keselamatan bagi orang percaya. Maka salib bukan hanya sebuah tanda kayu yang bersilang tetapi menjadi simbol dari kekristenan.

Sebagai simbol, orang Kristen biasa memakai salib sebagai dekorasi di gereja, di rumah atau sebagai aksesoris tubuh. Disadari atau tidak, hal ini secara tidak langsung menunjukkan bagaimana orang Kristen memberitakan salib Kristus kepada orang lain. Yang menjadi persoalannya apakah orang yang menggunakan simbol salib, menghidupi makna salib itu dalam kehidupannya sehari-hari? Mungkin, sebagian orang Kristen tidak memahami hal ini karena meskipun memakai simbol salib, namun perilaku hidupnya sehari-hari tidak mencerminkan kehidupan yang menghidupi makna salib itu. Maka sangat penting untuk mengkaji makna salib bagi kehidupan bergereja, sebab salib adalah pusat dari Injil Kristen.

Sekalipun pembicaraan tentang salib telah dikaji dari berbagai sudut pandang teologis, namun pada tulisan ini penulis akan mengkaji makna pemberitaan salib dari pandangan Rasul Paulus berdasarkan 1 Korintus 1:18-31. Sehingga kita akan melihat bagaimana seharusnya pemberitaan salib yang dilakukan oleh gereja, mengapa salib menjadi pusat dari Injil Kristen serta bagaimana menghidupi salib Kristus itu dalam kehidupan sehari-hari?

Pembahasan                                                                                       

Sejarah Pemahaman tentang Salib

Untuk memahami lebih jauh tentang makna salib, ada baiknya penulis menjelaskan secara singkat sejarah salib dimulai dari pemahaman orang Yahudi dan Yunani-Romawi, sehingga kita dapat dilihat bagaimana pemahaman tentang salib itu diperbaharui dalam salib Kristus.          Dalam PL – sesuai pandangan orang Yahudi – salib adalah kutukan (Ul. 21:23). Kutuk yang dimaksud di sini ialah kutuk yang disebabkan oleh pelanggaran akan hukum Allah (Ul. 27:26). Bagi bangsa Israel, orang yang digantung di kayu salib tidak lagi memiliki status karena ia berada di antara langit dan bumi. Ia ditolak oleh langit dan bumi. Hal ini mau menegaskan bahwa orang yang digantung pada kayu salib itu berada pada tingkat aib dan cela yang paling tinggi, sebab ia telah berstatus terkutuk oleh Allah.

Sedangkan dalam pemahaman dunia Yunani-Romawi. Kematian di salib dipandang sebagai hukuman yang sangat mengerikan. menyakitkan, mengandung pesan takut dan gemetar serta menjadi lambang kehinaan dan aib.

Namun dengan kematian Yesus di kayu salib membawa pemaknaan yang baru bagi orang percaya. Jika dalam pandangan orang Israel salib adalah kutukan (Ul. 21:23), maka dalam pandangan Kristen, Yesus sendiri menjadi yang terkutuk untuk membebaskan kita semua dari kutuk Hukum Taurat (Gal. 3:13). Jika orang Israel memandang seseorang yang tergantung pada kayu salib adalah orang yang tidak lagi mempunyai status karena ia ditolak oleh langit dan bumi, maka bagi orang Kristen, karena Yesus tergantung seperti itulah, Ia yang adalah sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia, dapat menjadi perantara antara Allah di surga dengan manusia berdosa di bumi (1 Tim. 2:5). Itu berarti, Allah dan manusia berjumpa pada salib Kristus. Jadi, salib adalah tempat perjumpaan antara Allah dan manusia.

Jika dalam pemahaman dunia Yunani-Romawi pembicaraan tentang salib menjadi hal yang sangat menakutkan, mengerikan dan memalukan, tetapi bagi orang percaya, berita tentang Yesus yang disalibkan itu justru harus semakin giat diberitakan. Pada titik inilah peristiwa salib mengalami perubahan makna pesan, sebab pesannya kini “jangan takut” dan “jangan malu” untuk memberitakan Yesus yang disalibkan itu.

Salib sebagai Solusi atas Permasalahan Jemaat Korintus

Bagi Rasul Paulus, pemberitaan tentang salib merupakan pusat dari Injil Kristen. Baginya, makna salib itu begitu besar sehingga banyak masalah dapat diselesaikan oleh salib. Salah satunya ketika menghadapi permasalahan di jemaat Korintus.

Jemaat Korintus terpecah menjadi empat kelompok yang berlainan, yaitu mereka berkiblat secara rohani kepada Paulus, yang lain kepada Apolos, yang lain lagi kepada Kefas, sedangkan ada lagi yang menyatakan hanya menjadi milik Kristus (1 Kor. 1:12-13). Perpecahan itu disebabkan oleh sikap jemaat Korintus yang sangat menekankan ciri manusiawi, yakni kefasihan berbicara dan hikmat duniawi. Sebagian anggota jemaat beranggapan bahwa karunia merekalah yang lebih tinggi dari yang dimiliki oleh orang lain (1 Kor. 12:1-14:40). Keangkuhan dan keinginan mencari kebijaksanaan serta kehormatan manusia menyebabkan terjadinya perpecahan dalam jemaat.

Menghadapi permasalahan tersebut, Paulus menyatakan bahwa Salib Kristus merupakan satu-satunya dasar dari bermacam-macam kebudayaan untuk dapat dipersatukan kembali (1 Kor. 3:11). Sebab di dalam Kristus yang tersalib itu, jemaat tidak terbagi-bagi melainkan mereka semua adalah satu di dalam tubuh Kristus (1 Kor. 1:13, 1 Kor. 12:27).

Makna Teologis Pemberitaan Salib Menurut 1 Korintus 1:18-31

Paulus menjelaskan bahwa berdasarkan kedudukan di dalam Kristus, pemberitaan salib akan membagi manusia ke dalam dua kelompok yang mutlak berbeda, yaitu “orang-orang yang binasa” apollumenois (ἀπολλυμένοις) dan “orang-orang yang diselamatkan” sōzomenois (σῳζομένοις).  Bagi orang-orang yang binasa, pemberitaan tentang salib adalah suatu kebodohan mōria (μωρία). Mereka mengatakan: “Bagaimana mungkin Yesus yang mati di kayu salib itu dapat membawa keselamatan bagi manusia? Bagaimana Dia dapat menyelamatkan kita, sedangkan diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan? Ini sesuatu yang tidak masuk akal! Adalah suatu kebodohan untuk percaya kepada pemberitaan salib.”

Tetapi bagi orang-orang yang diselamatkan, pemberitaan salib itu adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang percaya. Penyaliban Kristus bukan hanya sekedar peristiwa sejarah, namun representasi dari kuasa Allah untuk menyelamatkan setiap orang percaya. Itu berarti, respon manusia atas pemberitaan salib Kristus akan membagi seluruh umat manusia dalam dua kelompok yang mutlak berbeda.

  • Salib Kristus menjadi Titik Pertentangan Hikmat Allah dan Hikmat Dunia (1 Kor. 1 : 19-25)

Selain sebagai kekuatan Allah, Paulus juga memaknai salib Kristus sebagai hikmat Allah. Hikmat Allah itu bertentangan dengan hikmat dunia, di mana titik pangkal pertentangannya adalah salib Kristus. Hikmat Allah bukan hanya pengetahuan-Nya yang sempurna, melainkan juga rencana-Nya yang sempurna bagi manusia, pimpinan-Nya bagi sejarah manusia, dan kehendak-Nya. Sebuah hikmat tersembunyi, sebuah rencana rahasia, kini telah dinyatakan di dalam salib.

Sedangkan hikmat dunia ialah sikap (berpikir) manusia yang menyombongkan diri di hadapan Allah, yang mengesampingkan Allah, menekankan kesanggupan manusia, dan menjadikan manusia kekuasaan tertinggi serta menolak untuk mengakui pernyataan Allah dalam Yesus Kristus yang tersalib. Oleh karena kesombongan hikmatnya, Allah telah membuat hikmat dunia menjadi kebodohan (1 Kor. 1:20). Salib, yang oleh dunia dianggap sebagai kebodohan, justru dipilih Allah untuk membuat hikmat dunia menjadi kebodohan. Rencana Allah memang menjadi sesuatu yang tersembunyi bagi hikmat dunia dengan segala kesombongannya. Jika dunia ini bisa memilih, dunia dengan segala hikmatnya tidak akan memilih berita tentang Yesus yang disalib. Sebab, hikmat dunia yang berdosa tidak akan bisa mengerti arti sesungguhnya kematian Kristus di salib (1 Kor. 1:21).

Hikmat dunia diwakilkan oleh pandangan dua bangsa yang besar ketika itu, yaitu orang-orang Yahudi dan orang-orang Yunani (1 Kor. 1:22-23). Bagi orang-orang Yahudi, berita tentang salib Kristus adalah suatu “batu sandungan” skandalon (σκάνδαλον), sesuatu yang menyebabkan mereka tersandung dan jatuh (1 Kor. 1:23). Mereka menghendaki tanda/mujizat, suatu teologi kemuliaan bukan teologi salib. Mereka mengharapkan Mesias yang jaya dan perkasa bukan Mesias yang menderita. Sedangkan bagi orang-orang Yunani, berita tentang salib Kristus adalah suatu kebodohan (1 Kor. 1:23). Sebab tidak ada apapun di dalam salib yang cocok dengan selera mereka. Mereka menyambut pemberitaan salib itu dengan caci maki dan penghinaan.

Memang, membandingkan antara hikmat Allah dengan hikmat dunia sangat jauh perbandingannya, bahkan mungkin tidak ada titik temunya. Allah jauh lebih berhikmat dan lebih kuat daripada manusia. Paulus mengatakan bahwa apa yang tampak sebagai kebodohan Allah sudah jauh lebih berhikmat dari segala hikmat manusia dan apa yang tampak sebagai kelemahan Allah sudah jauh lebih kuat dari segala kekuatan manusia (1 Kor. 1:25).

Allah berkenan memilih jemaat Korintus yang dianggap lemah, bodoh, tidak terpandang, dan tidak berarti oleh orang-orang Korintus pada masa itu. Mayoritas dari mereka bukanlah dari golongan atas, bukan orang terpandang, orang yang berhikmat atau orang yang berpengaruh di tengah-tengah masyarakat. Namun, Allah justru memilih jemaat Korintus dengan keadaan yang demikian berdasarkan kasih karunia-Nya semata. Apa yang bodoh, yang lemah, yang tidak terpandang bahkan yang tidak berarti dipilih Allah agar tidak ada yang memegahkan diri di hadapan Allah (ay. 27-29). Karena semuanya – termasuk keselamatan manusia – adalah kasih karunia Allah.

Melalui salib Kristus, hendak menegaskan bahwa dasar bagi manusia untuk memegahkan diri di hadapan Allah sama sekali tidak ada, sebab keselamatan bukan karya manusia melainkan seluruhnya berupa rahmat Allah.[12] Sehingga, satu-satunya dasar bagi orang percaya untuk bermegah bukan dari dirinya sendiri, melainkan bermegah di dalam Tuhan, yaitu Kristus yang tersalib (1 Kor. 1:31; Gal. 6:14).

Kemegahan orang percaya di dalam salib Kristus sangat berbeda dengan konsep bermegah bagi orang Yahudi maupun orang Yunani. Baik orang Yahudi maupun orang Yunani sama-sama memiliki konsep bermegah atas diri mereka sendiri. Orang Yahudi bermegah atas ketaatan mereka terhadap hukum Taurat sebagai sumber pembenaran bagi mereka (Rm. 2). Sedangkan orang-orang Yunani bermegah atas filsafat dan ilmu pengetahuan (hikmat duniawi) (1 Kor. 1:22). Segala kemegahan mereka – baik orang Yahudi maupun orang Yunani – akhirnya berujung kepada kesombongan (1 Kor. 1:29).

Namun, bagi orang percaya, tidak ada dasar lain untuk bermegah selain di dalam salib Kristus. Sebab di dalam salib-Nya, yang dimegahkan bukanlah perbuatan manusia melainkan perbuatan Allah, yakni apa yang telah Ia lakukan di atas kayu salib bagi orang berdosa. Dengan demikian, Paulus menawarkan orientasi hidup yang berbeda dengan orientasi hidup orang Korintus. Menurut Paulus, orientasi hidup yang benar adalah orientasi hidup yang berpusat pada salib Kristus.

REFLEKSI

Dalam 1 Korintus 1:18, Paulus menggunakan kata Yunani ho logos tou staurou (Ὁ λόγος τοῦ σταυροῦ) untuk menjelaskan pemberitaan tentang salib. Dengan kata ini, Paulus mau menegaskan bahwa salib Kristus adalah hal yang terus dibicarakan di mana saja dan kapan saja. Dalam setiap bentuk pelayanan yang Paulus lakukan, salib Kristus menjadi puncak dari semua pemberitaan yang disampaikan. Di atas segala sesuatunya berita Paulus hanya menjunjung tinggi berita tentang salib Kristus. Pemberitaan gereja tanpa salib di dalamnya sesungguhnya bukanlah pemberitaan Injil.

Tidak dapat dipungkiri, merupakan hal yang sangat sulit untuk menjelaskan salib Kristus kepada orang-orang yang tidak percaya, sebab bagi mereka itu adalah suatu kebodohan. Di Indonesia sendiri, pada tahun-tahun belakangan ini penolakan salib juga menjadi bahan perbincangan yang sangat hangat. Salah satu contohnya, seperti perkataan seorang tokoh besar agama lain yang mengatakan bahwa ada “jin kafir” di dalam salib. Hal ini sebenarnya tidaklah mengherankan, karena sejak dulu sampai sekarang dan mungkin sampai akhir zaman akan ada orang-orang yang hidup sebagai seteru salib Kristus (Flp. 3:18).

Meskipun demikian, pemberitaan salib harus tetap menjadi inti pemberitaan gereja, sebab hanya pemberitaan demikian yang dapat membawa seseorang kepada keselamatan. Tanggungjawab gereja bukanlah membuat orang menjadi percaya, itu pekerjaan Allah. Allah bekerja melalui pemberitaan Injil di dalam diri orang yang dipanggil-Nya dan kepada mereka dikaruniakan iman. Sedangkan yang menjadi tugas dan tanggungjawab gereja adalah setia untuk memberitakan Injil (1 Kor. 1:24). Stott menyatakan bahwa penginjilan tidak berfokus pada hasil, tetapi pada kesetiaan dalam pemberitaan Injil. Terserah orang mau menerimanya atau tidak. Maka dalam pemberitaan salib, yang dituntut dari gereja adalah kesetiaan, ketekuanan, semangat dalam memberitakan salib Kristus.

  • Beritakan Teologi Salib, Bukan Teologi Kemuliaan (Teologi Sukses)

Bagi orang Yahudi, pemberitaan salib adalah suatu batu sandungan sebab mereka mengharapkan suatu tanda-tanda ajaib/mujizat, suatu bukti tentang kuasa. Teologi kemuliaan dan bukan teologi salib. Mereka mengharapkan Mesias yang jaya dan perkasa, yang akan membawa kemakmuran bagi orang Yahudi seperti di masa kerajaan Daud, bukan Mesias yang menderita apalagi mati memalukan di kayu salib.

Menurut penulis, teologi kemuliaan orang Yahudi seperti yang dijelaskan di atas tidak jauh berbeda dengan teologi sukses di masa kini. Hal ini mirip dengan teologi sukses yang juga mengharapkan kehidupan yang penuh dengan mujizat dari Tuhan, hidup yang berkelimpahan, serta menolak segala bentuk penderitaan bagi orang beriman. Teologi sukses adalah teologi yang menempatkan kehidupan umat atau orang percaya di dalam kehidupan yang sangat diberkati baik kesehatan, keuangan atau dalam kelimpahan materi dan itu adalah wujud dari kehidupan beriman yang diberkati.

Apa yang diajarkan teologi sukses sesungguhnya tidaklah sesuai dengan perkataan Yesus mengenai syarat untuk mengikuti Dia, yaitu menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Dia (Mat. 16:24, Mrk. 8:34, Luk. 9:23). Inilah teologi salib, suatu teologi yang bukan sekedar pengetahuan tentang salib, tetapi juga ajakan bagi orang percaya untuk memikul salib sebagai wujud ketaatan sebagai murid Kristus. Dengan demikian, gereja harus mendasarkan pemberitaannya pada teologi salib, bukan teologi kemakmuran atau teologi sukses. Gereja yang mendasarkan hidup berimannya pada teologi sukses memiliki mentalitas yang tidak siap ketika menghadapi salib dalam hidupnya. Imannya akan segera gugur ketika mengalami penderitaan. Sedangkan teologi salib memandang penderitaan sebagai jalan salib yang harus dilalui pengikut Kristus guna menguatkan dan meneguhkan iman.

  • Memberitakan Salib Kristus dengan Hikmat Allah; Bukan Hikmat Dunia

Paulus menjelaskan bahwa salib Kristus adalah hikmat Allah, bukan hikmat dunia. Itu sebabnya, dalam 1 Korintus 1:1, Paulus memberitakan Injil bukan dengan hikmat perkataan (hikmat manusia), tetapi perkataan yang datang dari Allah. Sekalipun Paulus adalah seorang yang terpelajar tetapi dia tidak mengajar atas hikmat dari dirinya sendiri tetapi bersandar dan dipimpin oleh Roh Kudus (1 Kor. 2:4). Semuanya dilakukan supaya salib Kristus tidak menjadi sia-sia (1 Kor. 1:17). Karena pemberitaan salib adalah pekerjaan rohani, maka gereja harus berserah kepada Allah dan membiarkan hikmat Allah yang mengambil alih dan berkuasa.

Gereja harus kembali pada esensi Injil yang benar. Injil tidak perlu ditambahkan dengan hikmat dunia untuk membuatnya menjadi menarik. Ketika gereja berusaha untuk membuat Injil menarik dengan memberitakannya menurut hikmat dunia, maka tindakan ini justru berkontradiksi dengan hakekat Injil. Sebab, Luther mengatakan bahwa Injil di dalam salib Yesus bukanlah konsep yang sejajar dengan hikmat dan filsafat dunia karena salib dianggap sebagai suatu kebodohan. Salib Kristus akan selalu menjadi hal yang tersembunyi bagi hikmat dunia dengan segala kesombongannya.

Bagi orang percaya, dasar untuk bermegah atas diri sendiri sama sekali tidak ada. Sebab, orang percaya menyadari bahwa segala sesuatu yang ada dalam hidupnya, termasuk keselamatannya hanyalah anugrah Allah semata (Ef. 2:8-9). Keberadaan orang-orang percaya adalah berdasarkan panggilan dan pemilihan Allah (1 Kor. 1:26-28), sehingga tidak ada alasan bagi orang percaya untuk memegahkan diri di hadapan Allah (1 Kor. 1:29). Satu-satunya dasar bagi orang percaya untuk bermegah bukan di dalam diri sendiri melainkan di dalam Tuhan, yaitu Kristus yang tersalib (1 Kor. 1:31, Gal. 6:14).

Gereja saat ini boleh bercermin bahwa tidak ada alasan bagi gereja untuk bermegah baik karena kekayaan, kehormatan, kepintaran dan bahkan perbuatan baik melalui pelayanan-pelayanan yang dilakukan. Sebaliknya, tujuan dari semua itu hanya untuk kemuliaan Allah. Kemuliaan Allah adalah tujuan utama dari segala-galanya. Standar tertinggi kualitas pelayanan gereja adalah memuliakan Allah (1 Kor. 10:31, Kol. 3:17). Jadi, bermegah dalam salib Kristus berarti menjadi kesaksian hidup bagi sesama yang ditunjukkan dalam perilaku sehari-hari.

DAFTAR PUSTAKA

 Aritonang, Jan S. dan Christian de Jonge, Apa dan Bagaimana Gereja? Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009.

Bavinck, J. H., Sejarah Kerajaan Allah 2. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2016.

Browning, W.R.F., Kamus Alkitab. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008.

Collins, Gerald O’ dan Edward G. Farrugia, Kamus Teologi. Yogyakarta: Kanisius, 1995.

Drane, John, Memahami Perjanjian Baru. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2005.

Groenen, C., Sengsara Tuhan Kita Yesus Kristus. Ende: Nusa Indah, 1983.

Hakh, Samuel Benyamin, Perjanjian Baru. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2016.

Jacobs, Tom, Paulus, Hidup, Karya dan Teologinya Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006.

Lima Dokumen Keesaan Gereja. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996.

Lingga, Elson, Firman Hidup 69. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008.

Luther, Martin, “Heidelberg Disputation”, dalam Martin Luther: Selections from His Writings, John Dillenberger (ed). New York: Anchor Books, 1961.

Morris, Leon, Teologi Perjanjian Baru. Malang, Gandum Mas, 2006.

Pfitzner, V. C., Kesatuan dalam Kepelbagaian. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006.

Smith, David L., A Handbook of Contemporary Theology. Grand Rapids, Michigan: Baker Books, 2000.

Stott, John, Christian Mission in the Modern World. Illionis: IVP, 1975.

Stott, John, Kristus Yang Tiada Tara. Surabaya: Momentum, 2013.

Tim Penyusun, Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan. Malang: Gandum Mas, 2008.


Gerald O’ Collins dan Edward G. Farrugia, Kamus Teologi (Yogyakarta: Kanisius, 1995), 287.

Gereja dalam hal ini dimaknai dalam dua pengertian. Pertama, gereja sebagai persekutuan yang mencakup semua orang percaya dari segala tempat dan sepanjang zaman dan mencakup segala suku bangsa, kaum dan bahasa yang taat kepada Allah di dalam Tuhan Yesus Kristus. Kedua, gereja sebagai tempat persekutuan yang mempertemukan orang-orang percaya sehingga gereja untuk mendapatkan pengajaran firman Tuhan dan menerima pelayanan sakramen. Bnd. Lima Dokumen Keesaan Gereja (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996), 56; Jan S. Aritonang dan Christian de Jonge, Apa dan Bagaimana Gereja? (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009), 5.

Leon Morris, Teologi Perjanjian Baru (Malang, Gandum Mas, 2006), 89.

Elson Lingga, Firman Hidup 69 (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008), 38.

Lih. W.R.F. Browning, Kamus Alkitab (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008),396; John Stott, Kristus Yang Tiada Tara, (Surabaya: Momentum, 2013), 17; C. Groenen, Sengsara Tuhan Kita Yesus Kristus (Ende: Nusa Indah, 1983), 25.

Leon Morris, Teologi Perjanjian Baru (Malang, Gandum Mas, 2006), 88.

Bnd. Samuel Benyamin Hakh, Perjanjian Baru, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2016), 145; J. H. Bavinck, Sejarah Kerajaan Allah 2 (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2016), 826.

John Drane, Memahami Perjanjian Baru (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2005),  353.

V. C. Pfitzner, Kesatuan dalam Kepelbagaian, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006), 33.

Tom Jacobs, Paulus, Hidup, Karya dan Teologinya, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006) 148.

Tim Penyusun, Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan (Malang: Gandum Mas, 2008), 1880.

Tom Jacobs, Paulus, Hidup, Karya dan Teologinya, 150-151.

Bnd. 1 Korintus 1:17-31; Galatia 5:11; 6:12, 14; Efesus 2:16; Filipi 2:8; 3:18; Kolose 1:20, 2:14

John Stott, Christian Mission in the Modern World (Illionis: IVP, 1975), 40.

David L. Smith, A Handbook of Contemporary Theology, (Grand Rapids, Michigan: Baker Books, 2000), 179.

Martin Luther, “Heidelberg Disputation”, dalam Martin Luther: Selections from His Writings, John Dillenberger (ed) (New York: Anchor Books, 1961), 502-503.

Categories: Artikel

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *