Vik. Ansparoh Crismas Hutabarat, S.Th
Vikar GKPI Jemaat Khusus Dumai Kota
Pengampunan adalah suatu gagasan yang indah dan menarik, sampai pengampunan itu menjadi sesuatu yang harus dinyatakan. Banyak orang di dalam kehidupannya telah merasakan begitu sulitnya sikap mengampuni itu. Sedangkan di sisi lain, begitu banyak orang menderita sekian lama, karena mengharapkan dan menantikan pengampunan dari seseorang. Saat ini akan dibahas pengampunan dari perspektif Tuhan Yesus. Pembahasan meliputi: apa sebenarnya pengampunan itu? mengapa orang sulit untuk mengampuni orang lain? dan bagaimana sikap yang dikehendaki oleh Allah dari umat-Nya berkenaan dengan pengampunan.
MENGAPA MENGAMPUNI?
Ketika Petrus bertanya kepada Yesus, “Tuhan sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku, jika ia berbuat dosa terhadap aku?” Petrus sudah merasa sangat rohani dan hebat, ketika secara retorik ia menjawab pertanyaannya sendiri,” Tujuh kali?”. Yesus menjawab, “Tujuh puluh kali tujuh kali.” Dan kemudian Yesus menceritakan semacam cerita di atas. Melalui sebuah penggambaran jelas dalam Mat 18:21-35, Yesus memberikan suatu alasan yang kuat tentang pengampunan. Mengapa mereka yang mengaku sebagai muridnya (saya) harus mengampuni orang lain?
MENGAPA MENGAMPUNI? SETIAP ORANG KRISTEN HARUS MENGAMPUNI ORANG LAIN, KARENA IA SENDIRI ADALAH ORANG YANG TELAH DIAMPUNI OLEH ALLAH.
Pengampunan Allah terhadap dosa kita adalah dasar/fondasi dari pengampunan kita terhadap sesama kita. Kesalahan kita yang begitu besar diampuni oleh Allah, oleh karena itu kita harus mengampuni kesalahan yang dilakukan sesama kita, yang tentunya tidak sebesar kesalahan kita di depan Allah.Ketika Yesus berkata, “Kasihilah musuhmu,” Ia menambahkan suatu penjelasan: “… Agar engkau menjadi anak-anak Bapamu yang di surga. Bapa yang di surga, yang telah menyebabkan matahari bersinar untuk orang yang jahat dan yang baik, dan mengirim hujan untuk orang yang benar dan orang yang bersalah.” Dalam perspektif Yesus, apabila murid- Nya hanya bisa mengasihi orang-orang yang mengasihi mereka, murid- Nya itu tidak lebih dari orang-orang penyembah berhala. Pengampunan kepada mereka yang tidak berhak adalah salah satu karakter Bapa di surga. Dan Ia memanggil kita untuk menjadi serupa dengan-Nya.
MENGAPA MENGAMPUNI? SEBAB HANYA PENGAMPUNANLAH YANG DAPAT MEMUTUSKAN SIKLUS RASA BERSALAH DAN SAKIT HATI.
Di antara orang yang perlu pengampunan dan yang seharusnya memberikan pengampunan terdapat suatu hubungan yang sangat erat, tetapi kaku. Orang yang membutuhkan pengampunan, dibelenggu oleh rasa bersalahnya. Sementara orang yang seharusnya memberikan pengampunan dibelenggu oleh rasa sakit hatinya. Keduanya adalah orang yang sedang terbelenggu, terbelenggu masuk dalam suatu siklus (“lingkaran setan”) yang tidak dapat terputuskan oleh apapun juga, kecuali oleh pengampunan.Memang, sepertinya tidaklah fair (adil) apabila orang yang disakitilah yang harus mengambil langkah pertama untuk memutuskan siklus ini. Tetapi inilah pengampunan. Mengampuni sesama yang telah berlaku salah memang mungkin bukan suatu tindakan yang bisa disebut sebagai adil. Tetapi, ini yang telah dilakukan oleh Allah bukan? Allah yang sudah mengampuni adalah Allah yang memanggil umat-Nya juga untuk mengambil langkah pertama (memberikan pengampunan) kepada mereka yang bersalah.
MENGAPA MENGAMPUNI? SEBAB HANYA PENGAMPUNAN YANG SANGGUP MELEPASKAN MEREKA YANG BERSALAH DARI BELENGGU RASA BERSALAH.
Pengampunan tidak saja melepaskan mereka yang terluka dari belenggu rasa sakit hati. Tetapi, pengampunan juga melepaskan mereka yang telah bersalah dari belenggu rasa bersalah. Tidak ada belenggu yang lebih kuat daripada rasa bersalah. Belenggu ini tidak bisa dipatahkan oleh mereka yang terbelengu itu sendiri. Tetapi belenggu itu harus dipatahkan dari pihak luar. Sesungguhnya mereka yang terbelenggu oleh rasa bersalah membutuhkan penerimaan. Sama seperti kisah anak yang hilang (Luk 15:11-32). Dalam Luk 15:20 tertulis, “Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia.” Sesungguhnya, pengampunan memberikan lingkungan yang kondusif untuk mereka yang bersalah. Lingkungan yang aman untuk merefleksikan diri dan menyadari bahwa rasa bersalah itu telah memberikan suatu belenggu. Disadari ataupun tidak, mereka yang telah bersalah adalah orang-orang yang terbelenggu. Kunci belenggu mereka adalah pengampunan dari orang yang telah mereka lukai.
PENGAMPUNAN MEMBUTUHKAN PERTOBATAN.
Pengampunan dari Allah tidak begitu saja dapat dinikmati oleh manusia yang berdosa. Pada pihak manusia supaya memperoleh pengampunan harus ada unsur tobat. Dengan kata lain dibutuhkan pertobatan, agar manusia memperoleh pengampunan. Yohanes Pembaptis memberitakan bahwa orang harus bertobat dan memberi dirinya dibaptis (bdk Mrk 1:4). Demikian halnya dengan pembaptisan Kristen juga memiliki unsur pertobatan dan pengampunan dosa. Hal ini ditegaskan dalam Kisah Para Rasul: “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus” (Kis 2:38). Bahkan Kristus sendiri menyuruh supaya dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa. Hal ini dikatakan oleh Yesus yang mulia sebelum naik ke surga: “Dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem” (Kis 24:47). Para murid diutus oleh Yesus untuk memberitakan perlunya pertobatan kepada segala bangsa, karena dengan pertobatan orang memperoleh pengampunan dosa. Pertobatan atau metanioa adalah perubahan hati, yakni pertobatan nyata dalam pikiran, sikap, pandangan dengan arah yang sama sekali berubah, putar balik dari dosa kepada Allah dan pengabdian kepada-Nya.
DOSA YANG TIDAK DIAMPUNI
Dalam Mat 12:31-32 tertulis: Sebab itu Aku berkata kepadamu: Segala dosa dan hujat manusia akan diampuni, tetapi hujat terhadap Roh Kudus tidak akan diampuni. Apabila seorang mengucapkan sesuatu menentang Anak Manusia, ia akan diampuni, tetapi jika ia menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datangpun tidak”. Apa itu hujat melawan Roh Kudus atau menentang Roh Kudus, sehingga dosanya tidak diampuni? Daniel J. Harrington SJ berpendapat: satu-satunya dosa yang tak terampuni adalah menganggap karya Roh Kudus sebagai pekerjaan roh jahat, seperti dilakukan orang-orang Farisi dalam hubungannya dengan Yesus. Kegagalan untuk mengakui Anak manusia dapat dipahami atau bahkan diampuni, tetapi kegagalan untuk mengakui sumber dari kuasa-Nya tidak dapat dimaafkan
BELAJAR UNTUK MENGAMPUNI
Dari pengalaman kehidupan, kita menjumpai bahwa pengampunan adalah suatu hal yang sangat sulit. Pengampunan itu sulit karena dalam setiap tindakan mengampuni terdapat penyangkalan terhadap diri sendiri. Di dalam hati mereka yang mengampuni tersimpa pertanyaan-pertanyaan : Apakah ia benar-benar tahu bahwa yang dilakukannya menyakiti hatiku?, Apakah ia sungguh-sungguh menyesali kesalahannya?, Tidakkah mungkin bahwa hal seperti ini terjadi lagi di masa yang akan datang? Sungguh bukanlah suatu hal yang mudah untuk mengatasi pertanyaan-pertanyaan itu. Mengampuni menjadi sulit karena mengampuni berarti siap untuk terluka lagi. Satu alasan yang mendasar yang seringkali menghambat seseorang untuk memberikan pengampunan adalah perasaan takut terluka kembali. Karena alasan inilah, orang rela bertahun-tahun terbelenggu oleh rasa sakit hatinya dan kehilangan suatu relasi dengan rekannya. Sebenarnya, dengan tidak mengambil tindakan untuk mengampuni, kita telah terluka. Tindakan pengampunan menawarkan satu-satunya kesempatan untuk lepas dari luka hati ini. Terbuka kesempatan untuk terluka kembali memang. Tetapi dengan tidak mengampuni, sebenarnya kita sudah terluka.
0 Comments