“Aku Telah Melihat Allah”
Epistel : Lukas 18 : 1 – 8
I. Pengantar
Perumpamaan tentang janda yang tekun untuk meminta keadilan kepada seorang hakim yang lalim ini merupakan salah satu pengajaran Tuhan Yesus yang sangat kuat mengenai doa dan iman. Lukas sebagai penulis Injil ini menekankan tujuan utama perumpamaan ini sejak awal: “Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu” (Luk.18:1). Dengan demikian, inti dari perumpamaan ini tidak hanya menekankan pada aspek doa saja, melainkan juga pada ketekunan iman dalam menghadapi ketidakpastian, penundaan, dan bahkan ketidakadilan. Dalam konteks pelayanan Tuhan Yesus, doa selalu ditempatkan sebagai pusat relasi dengan Allah. Yesus sendiri sering berdoa pada waktu-waktu penting dalam hidup dan pelayanan-Nya (lih. Luk. 3:21; 5:16; 6:12). Dengan demikian, perumpamaan ini dapat dipahami sebagai panggilan untuk meneladani sikap Yesus dalam relasi-Nya dengan Allah Bapa.
Konteks perumpamaan disini adalah pengajaran yang sebelumnya tentang eskatologi dan fajar pemerintahan Allah. Di dorong oleh beberapa orang Farisi tentang waktu kedatangan kerajaan (Luk.17:20), Yesus menafsirkan ulang pertanyaan tersebut. Kerajaan itu bukan tentang waktu. Kerajaan itu tidak dapat ditunjukkan. Bahkan bukan sesuatu yang dapat dilihat. Kerajaan itu harus dirasakan dan dialami. Yesus menyimpulkan, “Kerajaan Allah ada di antara kamu”. Kerajaan itu dapat dikenali di mana orang-orang beriman berkumpul. Yesus menyampaikan bahwa kerajaan itu akan ada di dalam dirimu, bahwa kerajaan itu berkuasa di dalam hati orang-orang percaya yang dalam perjalanan mereka melalui dunia yang compang-camping ini, membawa kehidupan yang dipimpin oleh Tuhan dalam perjalanan hidup mereka. Karena itulah, didorong oleh keadaan yang demikianlah, muncullah perumpamaan ini yang menekankan perlunya berdoa setiap saat dengan tidak pernah berputus asa (Luk.18:1-8).
II. Penjelasan
Ada dua tokoh dalam perumpamaan Yesus ini. Yang pertama adalah seorang hakim yang tidak adil. Ia digambarkan sebagai sosok yang “tidak takut akan Allah dan tidak menghormati manusia” (ayat 2). Dalam tradisi Israel, hakim dipanggil oleh Tuhan adalah untuk menegakkan keadilan (lih. Ul.16:18-20). Namun, hakim dalam cerita ini justru melanggar panggilannya, sehingga ia menjadi gambaran dari ketidakadilan struktural yang dialami oleh orang-orang yang kecil. Yang kedua adalah seorang janda yang miskin. Seorang janda dalam dunia Alkitab seringkali dipandang sebagai kelompok yang rentan dan tak berdaya (lih. Kel.22:22; Yes.1:17). Namun, dalam perumpamaan ini, janda itu digambarkan menjadi sosok teladan dalam ketekunan dan keberaniannya. Ia terus mengganggu hakim yang tidak adil itu dengan desakannya agar ia menerima keadilan dalam kasus yang ia hadapi. Karena janda itu tidak mau mengalah, akhirnya hakim itulah yang mengalah. Mengapa hakim itu mengalah? Ada anggapan bahwa hakim itu mungkin menjangkau sesuatu yang akan terjadi selanjutnya, jika janda itu terus-menerus mendesaknya, bisa saja janda itu akan melakukan hal yang lebih buruk lagi terhadapnya bahkan melakukan kekerasan pribadi terhadapnya. Tentu, sang hakim akan kuatir sebab dengan perlakuan yang demikian tentu akan mencoreng muka dan namanya sebagai seorang hakim. Begitulah dan akhirnya hakim itu pun mengalah dan mau menyelesaikan perkara janda itu. Dalam konteks ini kita temukan bahwa desakan yang dilakukan oleh janda itu adalah suatu tindakan yang dilakukan secara berulang-ulang, yang jikalau dikaitkan dengan doa tentu menekankan tentang persistensi doa (sifat atau keadaan yang selalu bertahan gigih dan tidak menyerah sebelum mendapatkan sesuatu).
Setelah menyampaikan perumpamaan yang singkat dan tajam ini, Yesus memberikan penjelasan akhir yang menyentuh karakter Allah dan hakikat iman. Ia menggunakan perkataan hakim tersebut sebagai titik awal untuk berbicara tentang pembebasan keadilan Allah sendiri, yang Allah berikan kepada mereka “yang berseru kepada-Nya siang dan malam” (ayat 6-7). Namun, meskipun Yesus membandingkan Allah dengan hakim tersebut dalam teks ini, titik perbandingan sebenarnya adalah bahwa Allah tidak seperti hakim yang enggan menanggapi perkara janda itu. Allah tidak perlu di desak untuk mendengarkan, dan ketika Allah menanggapi, Ia melakukannya dengan sukarela. Sebaliknya, Allah lebih seperti janda itu dalam komitmennya yang tak kenal lelah terhadap keadilan. Namun, janda itu juga mencontohkan bagaimana para pengikut Yesus harus berorientasi kepada Allah. Yesus kembali menekankan perilaku orang percaya ini dengan pertanyaan retoris penutup yang mengingatkan pada pernyataan pembuka-Nya tentang doa dan tidak patah semangat. Disini Yesus berkata: “Aku berkata kepadamu: Allah akan segera memberikan keadilan kepada mereka yang berseru-seru. Namun, jika Anak Manusia datang, akankah Ia mendapati iman seperti itu di bumi ini?” (ayat 8). Kata penutup ini juga mengingatkan kita pada wacana eskatologis sebelumnya (Luk.17:20-37) dan merujuk kepada ayat lain dimana Lukas menunjukkan bahwa Anak Manusia hanya akan datang kembali setelah penundaan yang panjang (bnd. Luk.12:35-40; 19:11-27; 21:7-28). Dengan mengakhiri khotbahnya dengan pertanyaan apakah Ia menemukan iman saat kedatangan-Nya kembali, Yesus mengajukan sejumlah pertanyaan tambahan bagi kita. Bagaimana para pengikut-Nya tidak patah semangat dan tetap beriman mengingat fakta bahwa Yesus tidak akan kembali secepat yang diinginkan banyak orang? Bagaimana kita harus bertindak jika keadilan Allah tidak ditegakkan sesuai dengan waktu kita? Bagaimana kita dapat terus bertahan menghadapi ketidakadilan jika keadilan Allah yang sejati baru datang secara “tiba-tiba” (en-tachei) saat kedatangan Yesus kembali? Menanggapi pertanyaan-pertanyaan tersebut, Lukas menegaskan bahwa kita harus bertindak seperti janda itu. Kita tidak boleh menunggu kedatangan Yesus kembali dengan tenang dan menerima nasib kita di dunia yang penuh penindasan ini. Sebaliknya, kita harus melawan ketidakadilan dengan tekad dan keteguhan hati seorang janda itu. Sebagaimana yang dijelaskan Yesus dalam Lukas 11:1-13, doa bukanlah kegiatan pasif, melainkan kegiatan yang secara aktif mencari Allah dan mengikuti kehendak-Nya. Seperti janda itu, kita harus bertekun dalam iman, berseru kepada Allah siang dan malam. Inilah wujud doa yang tekun. Doa yang tekun tidak terpisahkan dari iman. Doa tanpa iman hanyalah rutinitas kosong, sedangkan doa dengan iman adalah wujud ketekunan dan kebergantungan sejati kepada Allah.
Melalui perumpamaan ini kita temukan refleksi teologis yang penting bagi kehidupan kita. Pertama, doa sebagai ungkapan iman bukanlah sekedar mekanisme otomatis untuk memperoleh jawab yang instan dari Allah, melainkan haruslah kita pahami sebagai ekspresi relasi yang tekun antara manusia dengan Allah. Doa yang tekun tentu akan membentuk hati orang yang percaya untuk sejalan dengan kehendak Allah. Kedua,Allah yang adil dan penuh kasih secara esensial berbeda dengan hakim yang tidak adil. Allah mendengarkan umat-Nya, bukan karena dipaksa, melainkan karena kasih dan keadilan-Nya sendiri. Ia memberi penghiburan bahwa orang yang percaya tidak akan pernah sendirian dalam penderitaan mereka. Ketiga, dimensi eskatologi doa-doa kita, maksudnya bahwa doa yang gigih bukan kita pahami sekedar untuk kebutuhan kita pribadi, tetapi juga kita pahami sebagai saat-saat untuk menantikan keadilan Allah yang sempurna di dalam sejarah dunia ini.
III. Penerapannya
Di bawah terang tema minggu “Aku telah melihat Allah” mengingatkan kita beberapa hal berikut ini, antara lain:
- Ketekunan dalam doa menyingkapkan wajah Allah yang penuh kasih. Ketika kita tekun berdoa, bukan hanya jawab doa yang kita nantikan, tetapi juga perjumpaan dengan Allah. Setiap kali kita datang dengan hati yang setia, kita sedang “melihat wajah Allah” karena kita berjumpa dengan Dia yang mendengarkan dan peduli. Dalam doa yang tekun, kita belajar bahwa Allah bukan hakim yang lalim, melainkan Bapa yang penuh kasih.
- Keadilan Allah sebagai wajah-Nya yang nyata dalam hidup orang percaya. Janda dalam perumpamaan melambangkan orang kecil yang mencari keadilan. Allah berjanji bahwa Ia akan membela orang-orang yang berseru kepada-Nya. Ketika kita mengalami keadilan, pemulihan, pertolongan dalam pergumulan hidup, di situlah kita bisa berkata, “aku telah melihat wajah Allah”. Wajah Allah tampak dalam keadilan dan kasih-Nya yang nyata dalam kehidupan kita sehari-hari.
- Iman yang teguh memperlihatkan wajah Allah dalam kesetiaan-Nya. Saat kita tetap percaya meskipun doa belum dijawab, kita sesungguhnya sedang memandang wajah Allah yang setia, sebab iman menyingkapkan kehadiran-Nya di tengah ketidakpastian.
- Wajah Allah hadir dalam perjalan hidup kita sehari-hari. Saat kita merasakan kekuatan baru di tengah penderitaan, penghiburan dalam doa, atau pertolongan dari orang lain. Orang percaya dipanggil untuk peka, sehingga kita bisa berkata dengan iman sama seperti Yakub dalam Kejadian 32:30, “aku telah melihat Allah berhadap muka”.
0 Comments