DIPERLENGKAPI UNTUK SETIAP PERBUATAN BAIK
Epistel: Mazmur 84: 1-7
Pdt. Sudir Anton Silaban, S.Th
- PENDAHULUAN
Untuk mempermudah mengerti Mazmur pasal 84 ini, kita perlu mengetahui kebenaran dalam perikop ini, pertama, penulis mazmur ini adalah Bani Korah yang berarti “anak-anak (keturunan) dari Korah. Bani Korah adalah nenek moyang dari pemusik-pemusik kudus yang ditugaskan untuk melayani Tuhan di dalam Bait Suci. kedua, dianggap sebagai nyanyian umat ketika mereka berada di pembuangan di Babel yang rindu untuk kembali beribadah di Bait Suci di Yerusalem. Namun secara umum, di sini, nyanyian ini menunjukkan kerinduan murni pemazmur untuk memuji dan memuliakan Allah di Bait Suci, untuk merasakan kehadiran Allah dalam hidupnya. Karena bagi orang Israel Rumah Tuhan adalah lambang kehadiran Tuhan. Berada di rumah Tuhan berarti bertemu dengan Tuhan.
- PENJELASAN NAS
Ayat 1-3. Di sini kita dapat melihat bahwa pemazmur ingin memuji Tuhan di tempat-Nya. Ia rindu memuji dan memuliakan Tuhan di pelataran-Nya, dan hati serta tubuhnya bersukacita dalam memuji Tuhan. Ini adalah gambaran kerinduan seseorang akan kehadiran Tuhan dalam hidupnya. Bukan hanya hatinya, tetapi juga tubuhnya menjadi seperti suara yang ingin memuji Tuhan. Inilah perasaan manusia bahwa pujiannya datang dari totalitas dirinya, tidak setengah hati, tidak ragu-ragu, tetapi pasti, dalam kesetiaan untuk memuji Tuhan.
Ayat 4-5. Kemudian kita melihat di sini, seolah-olah pemazmur iri kepada burung pipit yang menemukan rumah di pelataran Tuhan, dan kepada burung layang-layang yang dapat membuat sarang di Bait Tuhan. Ini berarti bahwa bukan hanya manusia yang bersedia memuji dan memuliakan Tuhan, tetapi juga burung-burung di langit, dan makhluk-makhluk Tuhan lainnya, ikut memuji dan meninggikan Tuhan. Sebagaimana Filipi 2:10-11: “supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala … dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan!” Pemazmur menyimpulkan di ayat 5: Berbahagialah orang-orang yang diam di rumah-Mu; mereka akan tetap memuji-Mu. Kata “berbahagialah” berasal dari kata Ibrani eser yang berarti: ‘diberkati’ atau ‘bahagia.’ Ini adalah pernyataan iman pemazmur tentang hidup bahagia bersama Tuhan, yang merasakan kehadiran-Nya setiap saat.
Ayat 6-7. Kalau orang Batak, kita biasa mengatakan, rumah kita adalah rumah yang diberkati, rumah kekuatan. Karena kita tidur di rumah kita sendiri agar esok hari kita memiliki kekuatan untuk bekerja di ladang. Di sisi lain, mengenai kata “kekuatan seseorang”, kita dapat memahaminya sebagai jumlah uang, harta benda, kedudukan, hubungan, dll. Namun pemazmur menemukan kekuatannya di dalam Tuhan. Hanya Tuhanlah satu-satunya yang ia andalkan yang dapat memberinya kekuatan dan kesehatan.
Dan di ayat 7 dikatakan, agak mirip dengan deskripsi “lembah kekelaman” dalam Mazmur 23:4, bahwa ia tidak takut akan bahaya. Karena Tuhan ada di sana untuk melindungi hidupnya, ia diberkati.
Kita diingatkan melalui firman Tuhan ini, bahwa kedatangan kita ke rumah itu adalah karena kerinduan kita untuk bertemu dengan Allah. Kita datang ke rumah itu bukan karena rutinitas sebagai orang percaya kepada Allah, melainkan karena ketergantungan kita sepenuhnya kepada Allah, Dialah yang harus menjadi kekuatan dalam hidup kita. Karena kita lemah, kita memohon kekuatan kepada Allah agar kita kuat menghadapi hidup (Amsal 18:10). Kita memiliki pengharapan di dalam Dia (Mazmur 40:4, 146:5). Mereka inilah orang-orang yang dikatakan telah merendahkan diri di hadapan Allah. Mereka inilah orang-orang yang dengan tulus datang mendekat kepada Allah di bait-Nya. Pemazmur rindu untuk kembali ke pelataran Allah di bait-Nya agar ia dapat menerima kekuatan dari Allah untuk melewati kesulitan-kesulitan hidupnya. Marilah kita datang dan mendekat kepada-Nya di bait-Nya, agar kita dikuatkan untuk menjalani kehidupan sehari-hari. Marilah kita belajar bersyukur kepada Allah atas sukacita yang datang kepada kita. Dan kita harus belajar memohon kekuatan dari Allah melalui nyanyian pujian dan ucapan syukur di bait-Nya yang kudus.
- RENUNGAN
Marilah kita rindu untuk memuji dan memuliakan Tuhan di Bait Allah. Bagi kita jemaat GKPI, sejak kecil di Sekolah Minggu, kita telah diajarkan hukum taurat yang keempat dalam Katekismus Martin Luther, bahwa sangat penting kita memuji pada hari yang telah Tuhan kuduskan. Itulah salah satu ajaran utama dalam hidup kita. Marilah kita selalu rindu untuk memuji Tuhan dan beribadah bersama dengan saudara seiman di gereja kita. Karena di gereja kita belajar bagaimana melakukan pekerjaan baik dalam keluarga, dalam masyarakat dan di gereja. Seperti tema kita “Diperlengkapi Untuk Setiap Perbuatan Baik” melalui gereja kita diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik. Marilah kita rindu, seperti yang dikatakan PKJ (Pelengkap Kidung Jemaat) No. 23:1 “Marilah memuji Allah Mahatinggi pada hari ini, hari bahagia, karena besarlah kasih setia-Nya. Dia mengasihi umat manusia. Hidup kita dijamin-Nya, sukacita dilimpahkan. Keluarga diberkati, umur panjang diberika. Puji syukur bagi-Mu atas penyertaan-Mu. Nama-Mu kami puji untuk s’lama-lamanya” Dan nyanyian BE 18:1; “Ungkap bahal naumuli bagas ni Debata ki. Ai tusi do au naeng muli ganup jumpang minggu i. Hulului do disi bohini Debataki”. Oleh karena itu firman ini mengingatkan kita bahwasanya setiap orang yang sudah mengenal Allah akan merindukan pertemuan dengan Allah. Amin
0 Comments