“Aku Telah Melihat Allah”

Evangelium : Kejadian/ 1 Musa 32 : 22 – 32

Pdt. Josua P. Hasibuan, S.Th

I. Pengantar

            Kejadian 32 adalah salah satu adegan yang paling misterius dalam Alkitab. Siapakah yang menjadi lawan Yakub? Apa yang dicapai oleh pergulatan di malam hari itu? Apa arti penting pergantian nama Yakub menjadi “Israel”? Dan siapakah yang muncul sebagai pemenang? Peristiwa itu tidak terlepas dari konteks awal teks Alkitab kita ini. Kita mendapati Yakub yang terdampar di rumah setelah 20 tahun di Padan-aram, tempat ia melarikan diri setelah memanfaatkan rasa lapar Esau yang tak terkendali, meyakinkannya untuk menukar hak kesulungan yang sangat ia hargai dengan semangkuk bubur (lih. Kej. 25:29-34). Selain itu, dengan bantuan ibunya, Ribka, Yakub telah menipu ayahnya yang sudah tua dan buta, Ishak, agar tidak memberikan berkat yang seharusnya diberikan kepada Esau (lih. Kej. 27:1-40).

            Selama dua dekade Yakub tinggal di Haran, ia menjadi sangat kaya dan menjadi ayah dari 12 putra yang kelak akan menjadi nama bagi 12 suku Israel. Allah telah terbukti menyertai Yakub di setiap kesempatan, senantiasa bekerja untuk kebaikan-Nya dan memastikan keberhasilah Yakub dalam setiap usahanya. Kini, hanya satu ketegangan terakhir yang tersisa bagi Yakub untuk dihadapi; saudara kembarnya yang ternoda, Esau, yang terakhir kita lihat dalam narasi Kejadian 27:41-45 berencana untuk membunuh Yakub sebagai ajang balas dendam. Ketika Yakub mengetahui Esau hendak datang menemuinya ditemani oleh 400 orang, wajar saja apabila Yakub merasa takut. Ia secara strategis memisahkan keluarganya menjadi dua kelompok agar salah satu kelompok dapat melarikan diri jika Esau menyerang, lalu mengirimkan hadiah terlebih dahulu untuk menenangkan hati Esau (lih. Kej. 32:3-8, 13-21), dan berdoa (lih. Kej. 32:9-12). Akibatnya, “Yakub ditinggalkan sendirian, dan seorang laki-laki bergulat dengannya sampai fajar menyingsing” (Kej. 32:24).

II. Penjelasan

            Narasi yang tampak ambigu tentang identitas siapa yang menjadi lawan Yakub, nyatanya diidentifikasi sebagai “ish” atau “seorang manusia” (Kej. 32:24-25). Dengan demikian, para pembaca telah dikondisikan untuk bertanya-tanya apakah ini Esau yang membalas dendam dengan membutakan Yakub di malam hari. Namun, kita segera menyadari bahwa ini lebih dari sekedar manusia biasa, karena pergulatan itu berlangsung sepanjang malam, dan sebuah sentuhan yang mengenai sendi pangkal paha Yakub mengakibatkan pahanya terpelecok karena manusia itu. Namun, apabila kita lanjutkan pembacaan di dalam ayat 26, seolah kita diperhadapkan dengan narasi yang menjelaskan bahwa Yakub akhirnya mengenali lawannya itu sebagai Tuhan dalam wujud manusia. Selanjutnya, setelah Yakub mengenali lawannya dan berhasil merebut berkat itu dari lawannya, Yakub mengganti nama tempat itu menjadi “Pniel” yang berarti “wajah Tuhan”. Ternyata lawannya sebelumnya telah mengisyaratkan identitas ilahi ini ketika menjelaskan nama baru Yakub yang diganti menjadi “Israel” (ayat 28), dan dalam pasal berikutnya dapat kita bandingkan bahwa Yakub mengatakan telah melihat wajah Esau seperti melihat “wajah Tuhan” (Kej.33:10).

            Nama “Yakub” secara harafiah berarti “tumit”, merujuk pada tindakan memegang tumit saat masih di dalam rahim dalam upaya untuk dilahirkan lebih dulu (lih. Kej. 25:26). Hal ini, bersama dengan tipu daya dan penipuan Yakub selanjutnya telah membuat banyak orang memandang Yakub secara negatif. Namun, fenomena penipu yang lebih besar, baik secara alkitabiah maupun dalam kearifan lokal memberikan perspektif yang berbeda. Yakub si penipu tidak pernah dikutuk atau dihukum oleh Tuhan. Bahkan, Tuhan mengesahkan janji yang “dicuri” itu (lih. Kej. 28:13-15), dan bahkan ketika Yakub sendiri yang menjadi menerima tipu daya itu (Kej. 29:15-30:24). Di tengah-tengah pergulatan tersebut, Yakub menerima nama baru, “Israel”. Hal ini bukan momen penebusan bagi Yakub di mana nama baru melambangkan perubahan karakter atau cara baru dalam hidup di dunia. Hal ini juga bukan pendewasaan atau maksudnya mencapai kedewasaan yang lebih besar, atau meninggalkan cara-caranya yang menipu untuk membuatnya layak menerima janji yang telah diterimanya dan yang telah disahkan oleh Tuhan 20 tahun sebelumnya.  Nyatanya, dalam pasal 33 kita lihat bahwa Yakub akan menipu Esau lagi dengan berjanji untuk bertemu dengannya di Seir tetapi malah menerap di Sukot (Kej. 33:14-17). Dia tetapi menjadi penipu (Yakub) dan dipuji sebagai orang yang telah bergulat (Israel) sepanjang hidupnya dan bahkan sejak dalam kandungan dengan manusia dan dengan Tuhan, dan menang. Kejutan terbesar yang menjadi sorotan utama kita adalah bahwa menurut penilaian Tuhan sendiri, Yakub itu menang.

            Yakub telah terbukti menjadi lawan yang luar biasa tangguh, bahkan bagi Tuhan! Yakub mampu bertahan sepanjang malam, dan perhatikan, Tuhanlah yang harus meminta untuk dilepaskan sebelum fajar, bahkan setelah melukai Yakub dengan pukulan pada sendi pangkal pahanya. Penolakan Yakub atau Israel untuk melepaskan Tuhan adalah wujud iman yang murni dan jujur. Iman bukan sekedar berserah diri secara pasif kepada Tuhan, iman adalah sebuah pergulatan (bergulat dengan diri sendiri dan dengan Tuhan), perjuangan dan kegigihan. Iman adalah berpegang teguh pada Tuhan dan menolak untuk melepaskan, terlepas dari perjuangan, waktu, resiko, dan cedera. Sebab, berkat itu sepadan. “Aku tidak akan membiarkan engkau pergi, jika engkau tidak memberkati aku” (Kej. 32:26b). Ini adalah kisah Yakub. Tentang umat Allah, Israel, yang akan bertumbuh dari ke-12 putranya. Demikian juga bahwa ini adalah kisah kita juga. Sebagai orang percaya, kita mau menggumuli bahwa beriman kepada Tuhan merupakan sebuah pergulatan. Terkadang berkat datang dengan mudahnya, dilain waktu bisa saja datang dengan perjuangan dan pengorbanan yang besar. Firman ini juga hendak menguji hidup kita sebagai orang yang percaya, apa momen ‘Pniel’ yang telah kita alami; Kapan kita bergumul dengan Tuhan, melihat wajah Tuhan, dan apa saja bekas luka pergulatan yang telah membekas dalam hidup kita saat ini? Karena terkadang iman itu terasa seperti sebuah pergulatan yang begitu panjang dan menghabiskan energi dan tenaga kita. Ya, kita bisa memilih untuk melepaskannya, tetapi berapa harganya? Atau sebaliknya, kita bisa bertahan untuk mendapatkannya. Berkat yang ditawarkan kepada kita dari teks Alkitab ini adalah bahwa bahkan di tengah pergumulan yang sesungguhnya di malam-malam tergelap sekalipun, jika kita menolak untuk melepaskan, ya, kita mungkin akan terluka, tertatih-tatih seperti Yakub. Namun, jika kita tetap bertahan, kita juga akan mendapatkan berkat dan melihat wajah Allah.

            Demikianlah, bahwa pengalaman Yakub ini menjadi pengantar bagi kita untuk melihat tipologi yang serupa dalam Perjanjian Baru dalam diri Yesus Kristus. Yesus Kristus adalah perwujudan nyata Allah yang dapat dilihat oleh manusia. Dalam Yohanes 1:18 disebutkan, “Tidak seorang pun yang pernah leihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah…Dialah yang mengatakan-Nya“. Dengan kata lain, pengalaman Yakub saat itu menjadi pengantar untuk kita melihat pewahyuan yang sempurna Allah di dalam diri Yesus Kristus. Selanjutnya, luka yang dialami oleh Yakub dalam perjumpaannya dengan Allah menjadi tipologi bagi penderitaan yang akan juga didapatkan oleh Yesus Kristus dalam penebusan-Nya. Di dalam Kristus, luka dan penderitaan memperoleh makna yang amat dalam, sebab melalui salib Yesus kita melihat kemuliaan Allah yang tersembunyi dalam penderitaan (lih. Yoh. 12:23-24). Seperti Yakub, orang yang percaya dipanggil untuk menerima “luka/ bergulat” karena iman sebagai kesempatan untuk memurnikan dan meneguhkan relasi hidup dengan Tuhan. Penyingkapan Allah bagi kita di dalam Yesus Kristus mengakibatkan kita yang percaya menerima identitas yang baru sebagai anak-anak Allah ( Lih. 2 Kor. 5:17, “kainos”). Melalui Kristus, kita tidak sekedar melihat Alah saja, tetapi juga mengalami penyelamatan dan rekonsiliasi dengan Dia.

III. Penerapannya

            Di bawah terang tema minggu “Aku telah melihat Allah” mengingatkan kita beberapa hal berikut ini, antara lain:

1. Pergumulan iman menjadi ruang perjumpaan kita dengan Allah.

2. Yesus Kristus adalah wajah Allah yang sejati, yang membuat kita semua dapat mengenal Allah yang nyata (Immanuel).

3. Transformasi hidup adalah tindakan iman aktif sebagai respon perjumpaan dengan Allah, sebagai orang percaya kita dipanggil untuk hidup baru di dalam identitas baru yang berakar dan bertumbuh di dalam Kristus (Kol. 2:6-7).

4. Luka rohani maupun pergulatan yang kita alami dalam perjalanan hidup kita menjadi tanda kasih karunia Allah yang bekerja di dalam Kristus, supaya kita mengerti bahwa di dalam kelemahan kita, maka kita dapat merasakan kekuatan Kristus yang bekerja untuk memulihkan kehidupan kita.

Categories: Bahan Khotbah

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *