Minggu 12 Set.Trinitatis, 4 September 2022

Evanggelium    : Mazmur 139 : 17-24

Pendahulan

Mazmur 139 secara garis besar dapat kita bagi ke dalam dua bagian, yaitu bentuk pengakuan iman pemazmur (ay.1-18) dan permohonan dari pemazmur (ay.19-24). Dalam pengakuan imannya, pemazmur menyatakan bahwa “Tuhan, Engkau Mahatahu” (ay.1-6), “Tuhan Engkau Mahaada” (ay.7-12), dan “Tuhan, Engkaulah Penciptaku” (ay.13-18). Keunikkan Mazmur 139 ini ketika pemazmur menyebutkan “Engkau” kepada Tuhan. Hal ini sangat jarang kita temukan di kitab Mazmur. Mazmur ini sulit diidentifikasi jenisnya masuk ke bagian apa, sebab ada perbedaan nada yang sangat mencolok antara bagian pertama (ay.1-18) dengan bagian kedua (19-24). Bila memerhatikan dengan saksama, kita dapat melihat bila di bagian pertama nada dari nyanyian pemazmur ini sangat penuh kedamaian, kekaguman, sukacita, penyembahan, serta madah indah (ay.6, 14, 17-18). Namun, bagian keduanya bertolak belakang. Nadanya seperti penuh emosi, mendesak, dan tidak sabaran. Bagaimana cara kita melihat kesatuan dari dua hal bertolak belakang ini sehingga dapat menyebutkan jenis mazmur ini termasuk ke bagian apa? Beberapa penafsir teks PL menyebutkan Mazmur 139 termasuk ke dalam doa permohonan karena tampak pemazmur tengah berdoa di dalam kondisi ketidakbersalahan. Namun, apabila pendapat ini kita setujui, bagaimana dengan bagian pertama mazmur ini yang sama sekali tidak menyinggung soal doa permohonan? Lalu, beberapa ahli PL lain menyebutkan Mazmur 139 ini termasuk ke dalam madah. Persoalannya, ada banyak bagian pasal Mazmur yang berbentuk madah tetapi sama sekali tidak seperti Mazmur 139 ini. Seharusnya, kalau mazmur ini dikatakan berbentuk madah, ia harus berisikan undangan yang ada nilai bersemangatnya. Terlepas dari kerumitan kita dalam menentukan jenis Mazmur 139 ini, kita masih dapat melihat esensi pesan dari pemazmur untuk direfleksikan di dalam semangat Kekristenan kita pada saat ini. Dan, ada sesuatu yang menarik ditawarkan pada refleksi spiritualitas kita ketika pengakuan iman pemazmur ditutup dengan doa permohonannya. Suatu teks yang unik dengan pergumulan umat percaya yang unik pula di masa kini.

Pembahasan

Ay.17-18 : Dan bagiku, betapa sulitnya pikiran-Mu,  ya Allah! Betapa besar jumlahnya! Jika aku mau menghitungnya, itu lebih banyak dari pada pasir. Apabila aku berhenti, masih saja aku bersama-sama Engkau

Ayat ini masih bagian dari pengakuan iman pemazmur yang menyatakan bahwa Allah adalah penciptanya. Pada ayat 17 ini, pemazmur demikian kagum bagaimana Allah bisa menciptakannya sejak dari bakal anak (benih), hari-hari yang dibentuk, dan sesuatu yang belum ada padanya telah dicatatkan oleh Allah di dalam kitab-Nya. Ini tidak bisa dijelaskan dengan logika pemazmur. Seperti kehidupan kita, manusia modern pada saat ini, yang dikelilingi oleh peralatan yang serba canggih, di mana kita belum dapat mengetahui seberapa luas alam semesta ini. Dan, kita pun belum memiliki teknologi untuk bepergian antargalaksi. Sekiranya pun manusia pun dapat menciptakan alat bepergian yang mustahil dengan kecepatan secepat cahaya (299.792.458 meter per detik, atau kira-kira 3,00×108 m/s), kita membutuhkan waktu 2,5 juta tahun untuk tiba ke galaksi terdekat, Andromeda. Mungkin dengan perbandingan seperti ini kita di masa kini dapat membayangkan bagaimana takjubnya pemazmur kepada Allah saat itu. Ada jarak/gap yang jauh kekuatan jumlah berpikir perhitungan antara manusia dengan Allah. Karenanya, pikiran Allah tidak dapat terselami oleh manusia. Jadi tidak benar bila ada yang mengatakan kalau ia mengetahui persis pikiran Allah. Kita harus menyadari bahwa kita mengetahui Allah sebatas Dia menyatakan diri-Nya pada kita yang dicatatkan di kitab suci. Sifat dan perbuatan Allah yang tampak serta dinyatakan pada kita ini kemudian yang kita uraikan di dalam Kemahakuasaan Allah.

Pokok Teologis : Manusia yang terbatas tidak dapat menyelami pikiran Allah yang tidak terbatas.

Ay.19-22 : Sekiranya Engkau mematikan orang fasik, ya Allah, sehingga menjauh dari padaku penumpah-penumpah darah, yang berkata-kata dusta terhadap Engkau, dan melawan Engkau dengan sia-sia. Masakan aku tidak membenci orang-orang yang membenci Engkau, ya TUHAN, dan tidak merasa jemu kepada orang-orang yang bangkit melawan Engkau? Aku sama sekali membenci mereka, mereka menjadi musuhku.

Pada bagian ini, kemarahan dari pemazmur sudah terlihat dengan jelas. Pemazmur mengandaikan sekiranya Allah mematikan mereka, para orang fasik, sudah pasti ia akan aman dari orang yang ingin membunuhnya. Sebab, ada alasan bagi pemazmur untuk Allah menghukum mereka, yaitu karena mereka telah mengucapkan kata dusta dan melawan kehendak Allah. Karenanya, pemazmur meyakinkan Allah kalau ketidaksukaannya terhadap musuh sudah sejalan dengan penghukuman Allah pada orang berdosa. Dengan kata lain, pemazmur menegaskan kalau ia berdiri di pihak Allah. Tidak salah bagi pemazmur untuk memohon supaya Allah mendukungnya.

Pokok Teologis : Allah tidak berdiri di pihak pendusta dan orang fasik yang melawan kehendak-Nya.

Ay.23-24: Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!

Pada bagian ini, pemazmur menyerahkan seluruh penilaian Allah atas dirinya yang berani menyatakan sikap. Sepertinya, pemazmur ingin memastikan kalau ia di hadapan Allah bukan seorang yang berpura-pura. Dalam pandangan pemazmur, Allah penting untuk menyelidikinya dan menguji hatinya dan pikirannya yang tengah diliputi kegelisahan besar. Pemazmur bermohon hendaknya Allah melihat apakah ia telah menyusahkan-Nya dengan perbuatannya. Sekiranya ada suatu kekeliruan yang menandakan perilaku yang serong, ia bermohon agar Allah menuntunnya pada jalan yang kekal. Kita dapat mengartikan jalan yang kekal di sini sebagai jalan yang teguh dan terguncangkan, di mana seluruhya berdasarkan kehendak Allah.

Pokok Teologis: Allah memeriksa kehidupan manusia sedalam-dalamnya.

Refleksi-Aplikasi

Dari teks evanggelium kita saat ini, Mazmur 139:17-24, kita dapat merefleksikan “Di Hadapan Allah Tidak Ada yang Tersembunyi” melalui tiga indikator teologis, yaitu:

  1. Manusia yang terbatas tidak dapat menyelami pikiran Allah yang tidak terbatas.

Sebagai umat percaya, kita tidak dapat menolak salib yang harus kita pikul untuk mengikut-Nya. Firman Tuhan pada minggu lalu telah dengan jelas mengajarkan pada kita. Memang ada alasan kita sebagai manusia mempertanyakan mengapa kehidupan kita selalu terasa berat sekalipun kita telah berbuat yang terbaik dengan berusaha melakukan seturut kehendak-Nya. Dengan keterbatasan pikiran yang dimiliki, kita mustahil dapat menyelami pikiran Tuhan yang luar biasa. Seperti kesaksian pemazmur, Tuhan telah menuliskan kehidupan kita, termasuk yang akan kita dapatkan di kemudian hari, di dalam kitab-Nya. Yang dapat kita lakukan saat ini adalah memercayai proses yang Tuhan telah berikan di dalam hidup. Alih-alih bersungut-sungut atas realitas kesulitan hidup, kita malah harus bersyukur ketika masih diberikan napas kehidupan. Sebab, masih ada harapan yang Tuhan berikan di dalam kehidupan kita, umat-Nya. Keinginan untuk melihat ada rencana-Nya yang indah pada kita di tengah kesulitan yang dirasakan saat ini menunjukkan kedewasaan iman kita. Dan, kita jangan pernah menganggap Tuhan mengabaikan kita. Sebab, Tuhan sangat mengetahui apa yang kita rasakan saat ini. Di hadapan Allah tidak ada yang tersembunyi.

  • Allah tidak berdiri di pihak pendusta dan orang fasik yang melawan kehendak-Nya.

Kondisi kesulitan hidup tidak jarang membuat kita mencari jalan pintas. Celakanya, jalan pintas yang dipilih sering sangat tidak populer dengan jalan hidup Kekristenan, seperti mengambil sesuatu yang bukan haknya, melakukan perbuatan kekerasan bahkan sampai menumpahkan darah, dan hal lainnya yang bertentangan dengan kehendak Tuhan. Apapun kesulitan hidup yang dirasakan saat ini, itu semua tidak boleh dijadikan alasan untuk membenarkan perbuatan yang salah. Sebab, Tuhan pasti akan memberikan kekuatan bagi umat-Nya yang mengandalkan kekuatan Tuhan di tengah badai kehidupan. Tidak ada penderitaan yang diberikan melebihi kekuatan kita. Apabila kita merasakan beban itu, hal itu dapat terjadi karena mungkin menurut Tuhan semua masih dalam batas kekuatan kita. Iman ibarat emas yang perlu terus dibakar dan dipukul sampai mendapatkan bagian termurninya. Karenanya, kita tidak boleh kalah dengan kesulitan yang ada. Hal yang dapat kita lakukan hanyalah tetap melanjutkan langkah bersama dengan Tuhan. Kita perlu mengingat, jika Tuhan telah di pihak kita, siapa yang dapat melawan kita? Akan tetapi, apabila kita mengambil sikap yang berlawanan dengan kehendak-Nya, kita akan berdiri di sisi yang berseberangan dengan Allah. Ini menjadi alarm berbahaya dalam kehidupan beriman kita. Sekalipun kita dapat menyamarkan segala kejahatan itu di hadapan manusia, tetapi di hadapan Allah tidak ada yang tersembunyi.

  • Allah memeriksa kehidupan manusia sedalam-dalamnya.

Terkadang, kita sulit untuk memastikan apakah langkah yang kita pilih untuk menghadapi persoalan hidup sudah sesuai kehendak-Nya atau hal itu malah sangat mendukakan Allah? Karenanya, instropeksi diri dalam kehidupan itu menjadi hal yang sangat penting dalam kehidupan beriman dari umat percaya. Tindakan ini juga dapat menjauhkan kita dari kesombongan rohani. Tidak jarang kita melihat di ruang publik ada banyak pihak yang mempertontonkan kesombongan rohani. Mereka mengatakan kalau apa yang dilakukan telah sesuai dengan yang diinginkan oleh Allah. Tidak jarang mereka menjatuhkan, menghukum, bahkan menghabisi sesamanya dengan menggunakan nama Allah. Sejak kapan Allah yang Mahakuasa dan Mahapencipta perlu dibela atau dilindungi oleh ciptaan-Nya? Ketika Allah menciptakan manusia dan kehidupan di tengah dunia ini, Allah ingin semuanya berjalan dengan baik dan damai sejahtera. Itulah kehendak-Nya yang dicatatkan oleh kitab suci. Memoles diri agar kelihatan religius, bermoral, dan berakhlak di depan publik terkadang memiliki maksud dan tujuan tertentu. Tidak jarang, semua penampilan itu menjadi topeng untuk kepentingan pribadi. Hal ini sangat berbahaya sekali. Kita dapat melihat bagaimana ada negara yang runtuh oleh karena orang seperti ini yang berkuasa. Mereka menggunakan standar ganda dengan dalil-dalil keagamaan untuk mencapai tujuannya. Untuk itu, sikap beriman kepada Tuhan bukanlah untuk menentukan seseorang itu baik atau tidak baik. Ranah beriman merupakan ranah privat, antara yang beriman dengan yang diimaninya. Janganlah kita mempermainkan iman kepercayaan kepada Tuhan demi tujuan kita. Setidaknya, itulah yang diwaspadai oleh pemazmur, sehingga ia memohon Tuhan memeriksa sedalam-dalamnya baik pikiran dan hatinya. Ini yang perlu kita aplikasikan dalam kehidupan beriman dengan instropeksi diri, jangan-jangan apa yang kita anggap baik malahan melawan kehendak-Nya. Janganlah kita pernah malu memeriksa diri kita sedalam-dalamnya, sebab di hadapan Allah tidak ada yang tersembunyi.

Pdt.Theodorus B.Sibarani, S.Si (Teol), M.Kesos/GKPI Ressort Jakarta Raya-1

Categories: Uncategorized

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *