Jumat, 18 September 2026
Lalu mulailah Petrus berbicara, katanya: “Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang..Setiap orang dari bangsa manapun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya. (Kisah Para Rasul 10: 34-35).
Jumlah warga berusia 100 tahun atau lebih di Jepang mencapai rekor baru, yaitu menembus 100.000 orang pada tahun ini. Tepatnya per 1 September 2026, jumlah orang berusia 100 tahun mencapai 107.677 orang. Dibandingkan tahun lalu, jumlah itu bertambah 7.914 orang. Apa rahasianya? Salah satu menjawab, tidak pilih-pilih makanan. Yang lain mengatakan selain bangun pagi, membaca secara teratur dan beraktivitas secara rutin, termasuk menanak nasi sendiri, rahasianya adalah berbicara dengan siapa saja dalam kehidupan keseharian. Yang mungkin tidak dikatakan secara verbal, adalah bahwa Jepang yang merupakan negara ekonomi terbesar keempat di dunia, kehidupan mereka tertata dengan baik, termasuk biaya jaminan sosial. Suatu kehidupan yang tertib, teratur dengan kepastian hukum. [Sumber: Kompas, 17 September 2026, h. 4].
Allah menetapkan bahwa misi itu meluas kepada bangsa-bangsa. Paulus memperoleh penyataan sekaligus pengertian yang baru tentang Misi Allah: Allah tidak memandang muka; tidak membeda-bedakan. Sekarang aku benar-benar menyadari bahwa Allah tidak membeda-bedakan orang (ay. 34). Allah tidak membedakan antara orang Yahudi dan bukan Yahudi (lihat juga ay. 28–29). Oleh penyataan Tuhan sendiri menyangkut Kornelius, apa itu Misi Allah (Missio Dei) menjadi dibuat jelas bagi Rasul Petrus.
Dari Kitab Suci Israel Petrus memang telah mengetahui bahwa Allah tidak memandang muka (bdk. Ul. 10:17; Mzm. 81:2; Im. 19:15; 2Taw. 19:7). Namun sesuai dengan kisah Kornelius, prinsip alkitabiah mengenai ketidakberpihakan Allah memiliki aspek yang penting untuk diperhatikan: Meskipun Allah tidak melakukan diskriminasi berdasarkan kelompok etnis atau kebangsaan, Allah itu memberikan perhatian khusus kepada mereka yang “di setiap bangsa … yang takut akan Dia dan yang melakukan apa yang benar” (ay. 35).
Kornelius adalah seorang Romawi yang menjadi contoh nyata dari prinsip teologis ini (lihat 10:4–6, 31). Di dalam kisah Kornelius bebarapa kali diulangi mengenai karakter Kornelius yang saleh (Kis. 10: 2,4,22, 30). Maknanya jelas bahwa dia mempunyai keutamaan-keutamaan. Dia mendekati melalui doa-doanya dan dermanya terhadap orang miskin. Tentulah dia diselamatkan bukan karena kesalehannya dan perbuatan-perbuatannya. Melainkan, tindakan salehnya membuktikan kompetensi spiritualnya untuk bertobat. Responsif terhadap kehendan dan Sabda Tuhan.
Bangsa-bangsa yang memelihara sikap hidup yang rajin, yang menyelenggarakan kehidupan yang tertib, jujur, bekerja keras, Takut dan hormat kepada Tuhan, adalah karakter-karakter yang mempersiapkan orang atau bangsa kepada Injil Keselamatan dari Tuhan kita Yesus Kristus.
Lagu: “Yesus Cinta Segala Bangsa”
Doa: Ya Bapa di dalam Yesus Kristus, kami gembira dan bersyukur bahwa Engkau cinta segala bangsa. Yesus cinta s’gala bangsa, S’gala bangsa di dunia, Kuning, hitam, putih, merah, semua Tuhan cinta. Yesus cinta s’gala bangsa di dunia [JPS]
0 Comments