Selasa, 22 September 2026
Tetapi TUHAN adalah adil di tengah-tengahnya, tidak berbuat kelaliman. Pagi demi pagi Ia memberi hukum-Nya, dan tidak pernah ketinggalan; tetapi orang lalim tidak kenal malu. (Zefanya 3:5)
Kita hidup di dunia yang sering kali tidak adil. Ada orang yang diperlakukan berbeda karena kondisi ekonomi, pendidikan, jenis kelamin, bahkan karena memiliki disabilitas. Kadang-kadang mereka dianggap lemah, tidak mampu, atau hanya menjadi objek belas kasihan. Dalam situasi seperti itu, Zefanya 3:5 mengingatkan kita bahwa Tuhan tetap adil, sekalipun manusia tidak selalu demikian.
Tuhan tidak menilai manusia berdasarkan keterbatasan fisik, intelektual, sensorik, atau kondisi sosialnya. Setiap manusia memiliki martabat karena diciptakan menurut gambar Allah. Karena itu, kepedulian kepada kaum difabel bukan sekadar tindakan sosial, melainkan wujud iman dan penghormatan terhadap karya Allah.
Sama seperti sebuah pintu yang hanya memiliki tangga mungkin mudah dilewati oleh sebagian orang, tetapi menjadi penghalang besar bagi pengguna kursi roda. Ketika sebuah gedung menyediakan jalur yang aksesibel, bukan berarti mereka diberi keistimewaan. Mereka sedang diberikan kesempatan yang adil untuk masuk.
Demikian pula kita dipanggil untuk membangun kehidupan yang lebih inklusif: mendengarkan suara kaum difabel, menyediakan akses, menghargai kemampuan mereka, dan memberi kesempatan untuk berkarya. Inilah wujud pelayanan diakonia gereja yang inklusif: menjadi gereja yang peduli dan terwujud dalam aksi nyata. Peduli disabilitas tidak hanya berhenti pada belas kasihan di dalam hati, tetapi diwujudkan dengan menyediakan sarana yang layak—seperti akses jalan untuk kursi roda, toilet khusus disabilitas yang aksesibel, sistem pengeras suara (sound system) atau alat bantu dengar yang jelas bagi teman-tuli/menderita gangguan pendengaran, hingga penyediaan teks dan penterjemah bahasa isyarat.
Setiap pagi Tuhan memberikan kesempatan untuk hidup dalam kebenaran. Jangan hanya meminta keadilan dari Tuhan; jadilah pembawa keadilan bagi sesama. Keadilan bukanlah memberi semua orang hal yang sama, melainkan memastikan setiap orang memiliki kesempatan untuk hidup dengan martabat.
Nyanyian : KJ No. 260 : 1-3 Dalam Dunia Penuh Kerusuhan
Doa : Tuhan yang adil, ajarlah kami melihat setiap orang sebagaimana Engkau melihatnya. Ampuni kami jika pernah merendahkan atau mengabaikan kaum difabel. Berikan kami hati yang peka, tangan yang mau menolong, dan keberanian untuk membangun kehidupan yang adil dan inklusif. Amin. [Ljc]
0 Comments