Minggu, 13 September 2026
Lalu Musa mengulurkan tangannya ke atas laut, dan semalam-malaman itu TUHAN menguakkan air laut dengan perantaraan angin timur yang keras, membuat laut itu menjadi tanah kering; maka terbelahlah air itu. Demikianlah orang Israel berjalan dari tengah-tengah laut di tempat kering; sedang di kiri dan di kanan mereka air itu sebagai tembok bagi mereka. (Keluaran 14:21-22) (Keluaran 14: 19-31).
Choan Seng Song (1929-2024), teolog Asia, asal Taiwan, juga kemudian mengajar di USA menulis buku dan menamai bukunya: Sebutkanlah nama-nama kami. Tell us our names (terbit 1984, dengan cetakan Indonesia pada 1989). Song menceritakan kisah orang Angola, sebuah negara Afrika di bahagian Selatan.
Seorang pemuda mempunyai 4 saudara laki-laki. Suatu hari ia bertemu seorang gadis dan menikahinya. Mereka tinggal berdekatan tetapi tidak satu rumah. Perempuan itu memasak sepanci bubur. Ia mengambil sepiring bubur untuk suaminya, dan 4 piring bubur untuk ke-4 iparnya. Ipar-iparnya berkata: Jika kami memakan buburmu, sebutkanlah nama-nama kami. Katanya, aku tidak kenal dengan nama-nama kalian. Kata mereka, kalau engkau tidak mengenal nama-nama kami, ambillah kembali bubur itu. Maka diambilnyalah bubur itu dan dibawanya pulang ke rumahnya. Keesokan harinya hal yang sama terulang kembali. “Ipar-iparku menolak memakan buburku. Tetapi aku tidak mengenal nama-nama mereka.” Keesokan harinya, pada sore hari, perempuan itu mengambil ubi kayu untuk ditumbuk menjadi tepung. Seekor burung kecil hinggap di batang sebuah pohon dan mulai bernyanyi dan menyampaikan nama-nama iparnya itu. “Berisik,” kata perempuan itu. Tetapi sempat juga didengarnya nama-nama iparnya yang 4 itu.
Setelah menyiapkan bubur, dibawanya bubur itu ke hadapan ipar-iparnya. Kalau kami makan bubur ini, sebutkanlah nama-nama kami. Lalu disebutkanlah nama-nama mereka oleh perempuan itu. Ipar-iparnya tersenyum. Nama lebih penting dari makanan. Mereka menerima bubur itu dan memakannya. Mereka dapat menerima makanan itu kalau mereka disapa secara benar oleh ipar mereka.
Es telah mencair. Ketegangan telah berakhir. Ipar-iparnya tertawa. Persekutuan keluarga telah tercipta. Perempuan itu bukan lagi seorang asing bagi keempat iparnya. Sekarang ia telah mengenal nama-nama mereka. Demikian sebaliknya. Mereka sama-sama menjadi anggota keluarga yang sama.
Pikiran Choan Seng Song di atas adalah mengenai misi Kristen. Kita orang-orang Kristen menurut Song, tidak membawa Allah ke Asia atau Afrika. Allah sendirilah yang memperkenalkan kita kembali kepada konteks lokal dan budaya kita. Apabila kita mengenal nama-nama pribumi dan mendengarkan kisah-kisah orang-orang Asia dan Afrika, yaitu dalam hubungannya dengan Allah, kita akan memperoleh pengertian yang lebih dalam tentang iman Kristen dan memahami misi Allah di dalam dunia ini.
Membaca kisah Keluaran, yakni Pembebasan Umat dari perbudakan Mesir, di mana kelihatannya Tuhan menuntun ke jalan buntu, membawa umat-Nya ke Pi-Hahirot di tepi Laut Teberau di mana tidak ada jalan keluar lagi (Kel. 14: 1-2), kita dapat berpikir bahwa pimpinan Tuhan itu memang mengherankan sekali.
Perjalanan yang simpang-siur (berputar melalui jalan di padang gurun menuju ke Laut Teberau, Kel. 13:18), dimaksudkan Tuhan agar Firaun mengira Israel telah sesat dan bahwa padang gurun telah mengurung mereka, seolah-olah Tuhan telah meninggalkan mereka atau tidak sanggup untuk menuntun mereka terus.
Dengan kuasa Tuhan, dengan perantaraan Musa yang mengulurkan tangannya ke atas laut, di dalam Laut Teberau muncul tanah kering dan air terbelah menyerupai tembok di sebelah kiri dan kanan (ay. 22). Orang Israel berjalan di antara kedua tembok air itu. Lalu orang Mesir menyusul mereka (ay. 23). Atas perintah Allah, Musa mengulurkan tangan kembali (ay. 26-27) dan airpun berbalik menenggelamkan seluruh bala tentara Mesir (ay. 28). Pasukan Firaun yang mengejar tenggelam sesudah laut yang tadinya terbelah untuk jalan umat Tuhan itu kembali seperti semula (Kel. 14: 1-31).
Kisah umat Tuhan menyeberangi Laut Teberau ini mengundang kita untuk terdiam dalam keheningan di hadapan tindakan pembalikan Tuhan yang begitu menakjubkan atas proses-proses kekuasaan raja Mesir yang memutlakkan diri. Peristiwa ini bukanlah suatu perubahan keadaan yang biasa, yang dapat dijelaskan melalui pemikiran manusia ataupun fenomena alamiah. Setiap upaya untuk memahami kisah ini berdasarkan kerangka semacam itu justru merupakan pelanggaran terhadap apa yang dimaksudkan untuk kita dengarkan melalui narasi ini.
Dalam cakupan narasi ini, hanya ada satu penjelasan yang mungkin, dan nama dari “penjelasan” itu adalah Tuhan Allah, yang mendatangkan baik kehidupan maupun kematian.
Karena itu, membaca dan merenungkan Kisah umat Tuhan menyeberangi Laut Teberau menuntut kita untuk membersihkan pikiran kita dari segala keraguan yang menghantui manusia modern. Kita tidak dapat sekadar bertanya bagaimana penyelamatan ini mungkin terjadi atau apakah hal itu mungkin.
Kita harus melihat kepada Tuhan dan karya perbuatan-Nya. Kita tidak boleh takut kepada manusia melainkan takut dan hormat kepada Tuhan. Percaya kepada kuasa-Nya.
Kita dapat memiliki situasi seperti umat Israel berada di tengah-tengah maut. Kita harus percaya pada penyelenggaraan Tuhan yang memberi kelepasan. Seperti dahulu Nuh diselamatkan dari air dengan bahtera, atau Yunus yang terlepas dari perut ikan.
Cerita tentang keluarnya Israel dari Mesir belum selesai. Yesus Kristus-lah yang menyelesaikannya dan yang membuka maksud yang tersembunyi di dalamnya. Oleh berjumpa dengan Yesus yang bangkit, barulah murid-murid mengerti bahwa musuh telah benar-benar kalah dan mereka, juga kita yang percaya, telah masuk ke dalam kehidupan yang baru karena kemenangan Kristus di kayu salib.
Lagu: KJ no. 9: 1-3 “Puji Hai Jiwaku, Puji Tuhan”
Doa:. Ya Bapa di dalam Yesus dan Roh Kudus, penuhilah kami dengan keyakinan yang teguh bahwa Tuhan mendampingi, menemani dan menjagai kehidupan kami yang bersaksi, melayani dunia melalui persekutuan kami di dalam Gereja-Mu yang didirikan dan ditegakkan Tuhan Yesus. Amin. [JPS]
0 Comments