Kamis, 10 September 2026
Pada hari itu Aku akan mendirikan kembali pondok Daud yang telah roboh; Aku akan menutup pecahan dindingnya, dan akan mendirikan kembali reruntuhannya; Aku akan membangunnya kembali seperti di zaman dahulu kala. (Amos 9:11)
Kebanyakan bangsa atau suku bangsa mempunyai cerita tersendiri tentang masa kejayaan yang pernah dicapai oleh leluhur mereka. Belum lama ini, saya menyaksikannya di negeri Mongolia yang sangat bangga dengan tokoh Jenghis Khan (abad ke-13). Raja nan digjaya ini menaklukkan bangsa-bangsa besar: dari Tiongkok, Persia, sebagian besar Asia Tengah hingga Rusia bagian selatan. Ingatan akan sejarah kejayaan ini diabadikan pada monumen, arca, dan museum, yang menampilkan kebesarannya.
Tidak termungkiri, di balik ingatan seperti itu terselip kebanggaan dan keinginan akan kembalinya zaman keemasan lampau. Tokoh Daud termasuk ikon kejayaan yang kerap didaur ulang. Simbolnya dipertahankan hingga sekarang! Keberhasilannya menyatukan suku-suku utara dan selatan dengan ibukota baru, Yerusalem, dikenang dari generasi ke generasi.
Di zaman Amos terlihat tanda-tanda kejayaan dan kemakmuran yang mengingatkan era Daud. Kerajaan Israel utara yang beribukotakan Samaria mengalami masa kelimpahan, relatif bebas dari ancaman musuh. Para pembesarnya hidup mewah di rumah-rumah gading. Di mana-mana terlihat upacara-upacara agama yang meriah.
Namun, tragisnya, di akar rumput, orang lemah diinjak-injak, kaum miskin dipermiskin dengan pajak yang mencekik. Para penegak hukum malah menerima suap untuk menyingkirkan orang benar.
Dalam napas nubuat yang disampaikan Amos, sesungguhnya pondok Daud telah roboh! Tanpa keadilan dan keberpihakan pada nilai-nilai kemanusiaan, semua impian kejayaan hanyalah semu. Maka, kita diajak untuk bersikap kritis terhadap interpretasi kelompok mana pun yang mengusung simbol Daud tanpa mempedulikan suara sesama yang hak hidupnya diinjak-injak.
Dalam lintasan sejarah, delapan abad kemudian nubuat Amos dibaca kembali dan dipahami secara baru oleh gereja mula-mula: bukan sebagai pulihnya dinasti politik tetapi sebagai rumah baru yang didirikan oleh Kristus bagi segala bangsa (Kisah Para Rasul 15:16)! Panggilan kita hari ini bukanlah untuk mendaur-ulang narasi-narasi kejayaan masa lalu melainkan merangkul visi Ilahi yang mengajak kita membangun rumah cinta kasih Allah yang menyambut semua orang sebagai keluarga-Nya.
Inti renungan: Nubuat Amos mengingatkan kita akan karya Allah yang tak pernah berhenti pada masa lalu. Melampaui impian semu yang kerap mewarnai pikiran kita tentang kejayaan dan kemuliaan, di dalam Kristus, Ia mengajak kita untuk mendirikan pondok cinta kasih-Nya yang merangkul dan memulihkan hidup semua orang di dalam Kristus.
Lagu: KJ 282:1 “Seluruh Umat Tuhan oleh-Nya Dikenal”
Doa: Ya Tuhan Allah yang mencintai segala bangsa. Kami bersyukur kepada-Mu atas firman-Mu yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Hari ini melalui nabi-Mu kami diingatkan agar berlaku adil dan berpihak kepada cinta kasih-Mu yang merangkul semua orang untuk menjadi keluarga-Mu. Ajarlah kami melangkah melampaui impian-impian semu di masa lalu untuk membangun pondok cinta kasih Kristus yang merangkul dan memulihkan hidup kami dan sesama kami. [ATJ]
0 Comments