Kamis, 1 Januari 2026
Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.
(Amsal 3:5)
Kitab Amsal seringkali mengungkapkan adanya genre Perintah dan Larangan (Commands And Prohibitions). Dan ayat 5 ini adalah salah satunya, di mana kita di beritahu secara positif untuk mempercayai Tuhan dan secara negatif untuk tidak mempercayai pengertian kita sendiri. Ketika kita percaya kepada-Nya, kita mengakui bahwa keselamatan tidak ditemukan pada siapapun selain Dia. Ketika kita percaya kepadaNya, maka kita akan selalu memiliki harapan di setiap kondisi dan situasi yang kita alami. Ini bukan berarti orang percaya tidak mengalami rasa takut, tetapi kita bisa mengatasi rasa takut itu melalui iman percaya dan harapan kita kepadaNya.
Mengapa kita dilarang untuk bersandar kepada pengertian kita sendiri? Bukankah Tuhan Allah menciptakan manusia dilengkapi dengan akal budi sebagai kemampuan kognitif manusia untuk berfikir secara logis dan rasional? Ya, kita tentu saja bisa menggunakan dan harus menggunakannya. Namun kita tidak boleh mengandalkannya. Karena apa? Karena pemahaman manusia tercemar oleh dosa, kebijaksanaan yang terbatas, asumsi yang impulsif dan emosi yang keliru. Kita tidak selalu benar. Amsal 14:12 berkata “Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut” mengingatkan kita bahwa dosa sudah menodai pemahaman kita dan membawa kita pada kehancuran (Ef. 4:17-18) karena pengetahuan kita bersifat sebagian dan tidak lengkap/sempurna (1 Kor 3:9). Oleh karena itu, haruskah kita mendasarkan pemahaman kita pada hal-hal yang bersifat sebagian, berdosa atau merusak? Atau apakah kita harus mempercayai Allah yang Maha Mengetahui, Maha Kuasa, Maha Bijaksana, Maha Pengasih dan memiliki rencana yang baik untuk membimbing, memuaskan dan meneguhkan kita? (Lih. Yes 58:11). Tuhan tidak pernah berubah (Mal.3:6) dan keputusan-Nya tidak pernah sembarangan atau jahat.
Semakin kita mengenal Allah, semakin kita mencintai Dia. Semakin kita mencintai Dia, maka semakin kita mempercayai Dia saja. Maka semuanya dimulai dari “Pengenalan akan Tuhan”. Sama halnya ketika kita memiliki sahabat dekat, ketika orang berkata bahwa dia bukanlah orang yang baik, namun ketika kita sudah benar-benar mengenalnya maka kita tidak tidak akan peduli akan hal itu dan memilih untuk tetap berteman dengannya. Atau sama halnya ketika kita bersama dengan ibu, ayah atau kakak kita. Meskipun mereka senantiasa memarahi kita, namun kita tetap mengasihi mereka karena kita tahu bahwa mereka juga sangat mengasihi kita. [HLT].
Renungan:
Apakah yang menjadi tantangan bagi kita dalam mempercayai Tuhan seutuhnya?
KJ. No. 410:1
DOA: Ya Tuhan ajarlah kami untuk selalu percaya dan berserah kepada tuntunan serta kehendakMu dalam setiap kehidupan kami.
0 Comments