Senin, 14 September 2026

Kata-Nya kepada mereka semua: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.” (Lukas 9: 23).


Emmanuel Levinas (1906-1995), seorang filsuf Perancis keturunan Yahudi, terkenal dengan pemikirannya mengenai tanggungjwab. Bahwa manusia dalam penghayatan dan sikapnya didorong oleh pemikiran etis, oleh tanggungjawab terhadap sesama. Tanggungjawab memanggil dan ”membebani” kita setiap kali kita berhadapan dengan “orang lain”. Begitu orang lain menatap saya, demikian Levinas, saya mau tak mau sudah bertanggungjawab atasnya. [Magnis Suseno 2006, 86).    

Pemikiran Levinas itu berada dalam latar belakang kecenderungan manusia kepada kepentingan diri, hubungan timbal balik (dalam relasi, seperti “saya akan peduli kepadamu jika engkau juga peduli kepadaku”), termasuk penekanan kepada kebebasan individu, dalam pemikiran Barat (Western).

Levinas melihat tanggung jawab terhadap yang lain, yakni sesama manusia, adalah sesuatu yang lebih mendasar. Sesungguhnya, menurut Levinas, apa yang saya rasakan atau apa yang saya peroleh, yang tentu penting, tidak lebih dari tuntutan dan tanggungjawab bahwa yang lain memanggil saya kepada tanggungjawab. Sekiranya saya berjumpa dengan seorang asing yang sedang kelaparan, saya tidak berpikir, “Apakah ini masalah saya?” melainkan perjumpaan itu sudah menggangu sikap yang berpusat pada diri, sehingga kerentanan orang asing tersebut memanggil saya keluar dari diri saya sendiri. Yang penting bukan apa yang pertam-tama saya rasakan atau apa yang saya peroleh, melainkan bahwa yang lain itu _(the other)_ memanggil saya keluar dari diri saya sendiri.

Teks kita hari ini, Lukas 9:23, berlawanan dengan pemahaman Yahudi, menekankan bahwa Mesias itu harus menanggung penderitaan. Dalam keterkaitan penuh kepada Bapa, Yesus menyadari bahwa perutusan-Nya sebagai Nabi dan Mesias dari Allah bukanlah mengenai hal meraih kemenangan dan kekuasaan ala dunia melainkan bahwa Ia harus menjalani dan melewati penderitaan dan penolakan. Hanya melalui jalan itulah Ia akan memperoleh kemuliaan.

Yesus memanggil semua pengikut-Nya untuk mengambil bagian dalam jalan penderitaan-Nya, memikul salib dari hari ke hari, rela melepaskan harta kekayaan (untuk karya kebaikan) dan hubungan kekerabatan, kenyamanan, dan gengsi, demi perutusan membawa kabar baik. Siap menghadapi perlawanan, penolakan, penghinaan, dan ancaman, akhirnya juga mungkin kemartiran. Dengan berjalan bersama Yesus, orang percata akan memperoleh hidup dan kemuliaan melampaui kematian.

Lagu:  KJ 372: 1-3 “Inginkah Kau Ikut Tuhan”

Doa: Tuhan Yesus, Engkau adalah Allah kami yang  merangkul dan menanggung penderitaan demi penyelamatan kami. Teguhkanlah kami dalam jalan-Mu, mampu menanggung kesukaran dan penderitaan demi karya kasih. Amin. [JPS]

Categories: Terang Hidup

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *