Sabtu, 3 Januari 2026
Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga. (Matius 5:16).
Setiap orang percaya yang menjadi warga Kerajaan Allah memiliki identitas yang disimbolkan seperti garam dan terang. Garam berfungsi untuk memberi rasa kepada makanan bahkan juga dipakai untuk mengawetkan makanan agar tidak cepat rusak atau membusuk. Dan terang memiliki sifat alami: ia tidak berisik, tidak memaksa dan tidak berdebat. Terang hanya hadir, namun kegelapan tersingkir dengan sendirimya. Demikian pula hidup orang percaya. Kita tidak di panggil untuk membuktikan iman dengan kata-kata keras atau kesalehan yang dipamerkan, melainkan melalui perbuatan baik yang lahir dari hati yang di ubahkan. Kita harus melakukan perbuatan baik supaya dapat dilihat untuk menjadi kebaikan bagi orang lain. Dan bukan supaya dapat dilihat untuk mendatangkan pujian bagi diri sendiri melainkan harus kepada Tuhan. Sebab cahaya itu adalah terang Kristus yang dipercayakan kepada orang-orang percaya sebagai pembawa terang (bdk. Yoh. 1:8). Ketika kasih, kejujuran, kesetiaan dan kerendahan hati menjadi gaya hidup maka orang lain akan melihat “terang” itu.
Pada intinya, ayat ini adalah seruan untuk bertindak. Yesus tahu bahwa dunia membutuhkan lebih dari sekedar kata-kata, dunia membutuhkan contoh nyata dan konkret tentang kasih dan anugerah Allah. Membawa terang juga bukanlah tanpa tantangan. Ada kalanya ketika suara-suara keraguan dan negativitas terdengar lebih keras dari pada bisikan iman dan harapan. Pada saat-saat seperti inilah kita harus mengingat sumber terang kita dan mendekatkan diri kepada Tuhan yang mengisi dan menguatkan kita. Terang di dalam diri kita tidak bergantung pada keadaan kita; terang itu dipelihara oleh hubungan kita dengan Kristus. Selama kita tetap terhubung dengan-Nya, terang kita akan terus bersinar tidak peduli seberapa redup dunia di sekitar kita tampak. Pada akhirnya, dampak terang kita tidak diukur dari seberapa banyak perhatian atau pujian yang kita terima, tetapi dari bagaimana terang itu menuntun orang lain untuk memuliakan Tuhan. Oleh karena itu janganlah kita takut untuk membiarkan terang kita bersinar. Marilah kita merangkul panggilan untuk hidup dengan berani dan gagah, mengetahui bahwa perbuatan baik kita adalah cerminan dari Dia yang telah memanggil kita dengan nama-Nya. Dan saat kita menyinari terang kita, semoga kita selalu mengarahkan orang lain kepada sumber sejati dari segala terang dan kehidupan yaitu Bapa kita yang layak menerima segala pujian dan kemuliaan. [HLT]
Renungan:
Apakah perbuatan baik yang sudah kita lakukan selama ini secara konsisten? Dan apakah motivasi kita melakukan hal tersebut?
KJ. No. 289:1-2
DOA: Tuhan, Engkaulah sumber terang dan kemuliaan. Oleh karena itu, berikanlah kami kekuatan untuk mempu menjadi anak-anak-Mu sebagai pembawa terang itu melalui perilaku hidup kami sehari-hari.
0 Comments