Jumat, 2 Januari 2026
Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. (Kejadian 1:1)
Kejadian 1 merupakan merupakan salah satu teks Alkitab yang paling sering dikutip untuk menunjukkan konflik antara sains dan agama. Bagian pembukaan Kitab Kejadian bukanlah suatu laporan ilmiah dari proses yang sebenarnya yang menciptakan alam semesta ini. Dunia yang asal mulanya dilukiskan dalam ayat-ayat ini, tidak dikenal oleh ilmu pengetahuan. Dunia yang dikhayalkan manusia purbakala yang terdiri atas hamparan tanah yang padat, yang dikelilingi oleh dan bertumpu pada samudera serta diliputi kubah yang dinamakan “cakrawala.” Kejadian 1 ini diakui sebagai geosentris. Ini cocok dengan maksud teologis dari pasal ini, bukan ilmu pengetahuan. Ingat bahwa Alkitab ditulis dalam bahasa penjelasan bagi maksud-maksud teologis. Ini bukan berarti anti-ilmiah, namun pra-ilmiah. Mari kita perhatikan bahwa tak ada keterangan mengenai asal-usul Allah. Alkitab tidak mendiskusikan asal-usul Allah karena ia telah dan selalu ada (bdk. Mzm. 90:2). Ayat ini juga dengan tegas menyatakan bahwa Allah “menciptakan materi” dan tidak membentuk materi dari yang sudah ada (kosmologi Yunani). Ini juga berarti bahwa umat manusia secara sederhana tidak akan mampu memahami kepenuhan Allah.
Kejadian 1:1 ini mengingatkan kita bahwa segala sesuatunya harus dimulai bersama Allah. Bukan hanya penciptaan alam semesta, tapi setiap langkah hidup manusia seharusnya berakar pada Dia. Seringkali dalam kehidupan sehari-hari kita memulai segala sesuatunya atas dasar pertimbangan dan pemikiran diri sendiri tanpa terlebih dahulu bertanya “Apa yang Tuhan kehendaki?” Tanpa kita sadari, kita menempatkan Allah bukan di awal, melainkan di tengah atau bahkan di akhir ketika semua sudah terasa rumit dan buntu. Renungan kita hari ini menegaskan bahwa Allah adalah sumber permulaan yang sejati. Ketika Allah memulai, Ia tidak hanya mencipta, tetapi juga memberi arah, makna dan tujuan. Langit dan bumi tidak diciptakan secara acak, semuanya teratur sesuai kehendak-Nya. Ini mengajarkan kita bahwa hidup yang dimulai bersama Allah bukanlah hidup tanpa tantangan, melainkan hidup yang memiliki arah yang jelas. Mengawali segala sesuatu bersama Allah, berarti membawa dia masuk sejak Langkah pertama, bukan sekadar meminta berkat setelah keputusan diambil. Sikap ini menuntut kerendahan hati, sebab kita mengakui bahwa hikmat kita terbatas, sementara hikmat Allah sempurna.
Ada kalanya juga kita takut memulai bersama Allah karena merasa tidak siap/tidak layak. Kita menunggu segalanya sempurna. Namun mari kita ingat, bahwa penciptaan dimulai ketika bumi masih “belum berbentuk dan kosong.” Allah tidak menunggu keadaan ideal untuk berkarya. Justru di dalam kekosongan dan ketidakpastian, kuasa Allah dinyatakan. [HLT].
Renungan:
Apa yang sedang atau akan kita mulai saat ini? Apakah kita mengandalkan kekuatan sendiri atau sungguh-sungguh mengundang Allah sejak awal”?
KJ. No. 289:1-2
DOA: Tuhan, Engkaulah awal dari segala sesuatu, ajar kami untuk selalu memulai setiap Langkah hidup kami bersama-Mu. Biarlah setiap rencana dan pekerjaan kami, kehendak-Mu yang menjadi dasar dan terang penuntun kami. Amin.
0 Comments