Senin, 12 Januari 2026

Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. (Ulangan 6:5)

Di tengah kehidupan yang serba cepat dan penuh tuntutan, kasih sering kali terpecah-pecah. Hati terbagi oleh kekhawatiran, jiwa lelah oleh beban yang tak kunjung selesai, dan kekuatan terkuras oleh rutinitas yang menuntut perhatian tanpa henti. Banyak orang tetap menjalani hidup dengan setia, bekerja, mengurus keluarga, beribadah, namun di kedalaman batin muncul pertanyaan sunyi: apakah kasih kepada Allah masih menjadi pusat hidup, ataukah ia telah tersisih oleh kesibukan dan kecemasan sehari-hari?

Ulangan 6:5 menyampaikan perintah yang singkat, tetapi sangat menyeluruh: “Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.” Ayat ini bukan sekadar nasihat rohani, melainkan fondasi iman Israel. Kasih kepada Allah tidak ditempatkan sebagai salah satu aspek hidup, tetapi sebagai poros yang menata seluruh keberadaan manusia.

Menarik untuk diperhatikan, kasih kepada Allah diungkapkan dengan tiga dimensi: hati, jiwa, dan kekuatan. Ini menunjukkan bahwa iman tidak pernah bersifat parsial, atau dapat dibagi-bagi. Mengasihi Allah dengan segenap hati berarti melibatkan pusat kehendak dan keputusan kita. Mengasihi dengan segenap jiwa berarti membawa seluruh kehidupan batin, emosi, harapan, dan ketakutan, ke hadapan Allah. Mengasihi dengan segenap kekuatan berarti, iman menjelma dalam tindakan nyata, dalam cara kita bekerja, melayani, dan bertanggung jawab atas hidup yang dipercayakan kepada kita.

Dalam teologi Kriten, ada yang dikenal spiritualitas terpecah. Spiritualitas terpecah adalah gambaran seseorang yang terbagi dan menjadikan berbagai macam sebagai poros hidup sekaligus. Kasih kepada Allah tidak hilang, tetapi tidak lagi menjadi poros utama. Hati dipenuhi oleh kecemasan dan tuntutan, jiwa dipadati oleh tekanan emosional, sementara kekuatan habis untuk bertahan dalam ritme hidup sehari-hari. Spiritualitas semacam ini membuat iman hadir secara parsial: Allah diakui, tetapi tidak sepenuhnya menata arah hidup. Akibatnya, kehidupan rohani berjalan berdampingan dengan kehidupan sehari-hari tanpa sungguh menyatu, melahirkankelelahan eksistensial, bukan karena terlalu banyak berbuat, melainkan karena hidup dijalani tanpa pusat yang utuh.

Perintah Ulangan 6:5, mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, dan kekuatan, dalam kerangka ini dapat dibaca sebagai kritik sekaligus terapi bagi spiritualitas yang terpecah. Ayat ini tidak menuntut intensitas religius yang berlebihan, melainkan keutuhan orientasi hidup. Ia memanggil manusia untuk kembali menyatukan dimensi batin, afeksi, dan tindakan di bawah satu pusat kasih, yakni Allah sendiri. Dengan demikian, iman tidak lagi terbagi antara ruang ibadah dan ruang hidup, antara keyakinan dan praktik keseharian. Mengasihi Allah secara utuh menjadi jalan pemulihan dari spiritualitas yang terpecah, bukan dengan menambah aktivitas rohani, tetapi dengan membiarkan kasih kepada Allah menata kembali seluruh kehidupan sebagai satu kesatuan yang bermakna, sekaligus kasih kepada Allah menjadi dasar dari segala sesuatu.

Oleh karena itu, ayat ini juga perlu dibaca dengan kejujuran iman. Mengasihi Allah dengan segenap hidup bukan berarti kita selalu berhasil melakukannya dengan sempurna. Ada hari-hari ketika hati kita tidak sepenuhnya tertuju kepada Allah, ketika jiwa kita letih, dan kekuatan kita terasa habis. Ulangan 6:5 bukan undangan untuk perfeksionisme rohani, melainkan panggilan untuk orientasi hidup. Kasih kepada Allah adalah arah yang terus diperjuangkan, bukan prestasi yang sekali jadi.

Dalam kehidupan jemaat, kasih kepada Allah sering diuji justru dalam hal-hal yang sederhana dan berulang. Kesetiaan dalam tugas kecil, kejujuran dalam pekerjaan, kesabaran dalam relasi, dan ketekunan dalam doa yang terasa kering, di sanalah kasih kepada Allah diwujudkan. Mengasihi Allah dengan segenap kekuatan berarti tidak menyerah pada kelelahan, tetapi terus mempersembahkan apa yang ada, meski terbatas.

Ulangan 6:5 juga mengingatkan, kasih kepada Allah mendahului segala perintah lainnya. Etika, ibadah, dan pelayanan menemukan maknanya ketika berakar pada kasih kepada Allah. Tanpa kasih, ketaatan mudah berubah menjadi rutinitas kering. Dengan kasih, ketaatan menjadi respons syukur atas Allah yang terlebih dahulu setia.

Renungan ini mengajak kita menata ulang hidup: bukan dengan menambah aktivitas rohani, tetapi dengan mengarahkan kembali seluruh hidup kepada Allah. Hari ini, mungkin kita tidak mampu memberi yang besar, namun kita dipanggil untuk memberi yang utuh, hati yang jujur, jiwa yang terbuka, dan kekuatan yang dipersembahkan apa adanya. Mengasihi Allah dengan segenap hidup berarti membiarkan Allah menjadi pusat yang menata segalanya. Dari pusat inilah, hidup menemukan keutuhan, arah, dan pengharapan. Di tengah dunia yang mudah memecah-belah perhatian dan hati, kasih kepada Allah menjadi jalan untuk hidup yang utuh dan bermakna. Amin. [IH]

Kutipan Renungan: “Mengasihi Allah bukan menambah kesibukan rohani, melainkan mengarahkan seluruh hidup kepada-Nya.”

Lagu: KJ 392:1 ‘Ku Berbahagia

Doa: Allah yang setia, Engkau memanggil kami untuk mengasihi-Mu bukan dengan sebagian hidup kami, melainkan dengan segenap hati, jiwa, dan kekuatan. Sering kali hidup kami terpecah oleh banyak tuntutan, hati kami terbagi, jiwa kami letih, dan kekuatan kami terasa terbatas. Terimalah kasih kami yang tidak sempurna, dan tuntunlah kami untuk terus mengarahkan hidup kepada-Mu sebagai pusat segalanya. Satukan kembali hati, jiwa, dan tindakan kami, agar dalam setiap hal yang kami jalani, nama-Mu dimuliakan dan hidup kami menjadi utuh. Di dalam nama Tuhan yang setia, kami berdoa. Amin.

Categories: Terang Hidup

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *