Selasa, 15 September 2026
Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu? (Mikha 6:8).
Karl Barth (1886-1968), mengatakan bahwa “Hanya pelaku Firman yang menjadi pendengar yang sejati.” Penekanan seperti itu dapat kita telusuri ke masa yang lebih jauh yakni kepada tradisi para Nabi yang menekankan tidak saja pada kata-kata tetapi juga tindakan (bdk. Yesaya, Amos). Semangat itu tentu juga terdapat di dalam Perjanjian Baru (PB) yakni tentang perlunya tidak hanya mendengarkan Firman tetapi melakukannya (Yak. 1:22). Artinya kaitan erat antara tingkah laku etis dan pemikiran teologis.
Nabi Mikha dari Moresyet yang berkarya pada abad ke-8 SM, yakni sebelum jatuhnya Samaria (tahun 721 SM), hingga sampai tahun 701 SM, saat Sanherib menyerbu Yehuda, adalah nabi keadilan ilahi, yang menyuarakan hak-hak orang miskin yang tidak boleh dilanggar. Nabi menyurakan bahwa akan tidak ada harapan lagi jika para pelindung agama dan moral sendiri melakukan korupsi dan keserakahan demi kenikmatan sendiri.
Nabi Mikha menyaksikan penderitaan berat dan kejam yang terjadi pada orang-orang miskin. Tanah mereka dirampas oleh penguasa di Yerusalem untuk mendirikan tempat penjagaan di Moresyet; orang-orang yang datang dari kota besar Yerusalem merebut apa saja yang mereka inginkan (Mi. 2: 1-2; 6:9-11). Merebut ladang-ladang karena utang yang tidak dibayar (Mi. 2:2,4). Mereka menanggalkan mantol (baju hangat/mantel) dari para pengutang, sesuatu yang diharuskan (oleh Taurat) sebenarnya untuk dikembalikan pada waktu senja (Mi. 2:8). Kalau bagi Nabi Yesaya dosa lebih dikaitkan dengan tindakan tidak menghormati dan menajiskan Bait Allah (Yes. 4:4), maka bagi Mikha, dosa dipahami sebagai kekejaman tindakan yang disebut di atas: menelanjangi orang dengan melepaskan mantolnya dan perbuatan ketidakadilan.
Para nabi mengingatkan pembaharuan di bidang ibadat tanpa kepekaan terhadap ketidakadilan sosial, tidaklah memadai. Sekalipun pembaharuan di bidang ibadat seperti dilakukan Raja Hizkia (2 Raj. 19-20; 2Taw. 29-32), yang sangat diperhatikan dan dihargai oleh Kitab Raja-Raja dan Tawarikh, tetapi nabi-nabi menegaskan bahwa Allah menghendaki keadilan (Mi. 6:8).
Menurut sang nabi, Allah lebih tertarik terhadap bagaimana manusia menjalankan hidup sehari-harinya daripada praktik-praktik keagamaan ritual.
Lagu: PKJ no. 1:1-2 Abadi Tak Nampak
Doa:. Ya Bapa, teguhkanlah jalan hidup bagi kami yang mewujudkan keadilan dan kasih sebagai kerohanian yang sejati. Amin. [JPS]
0 Comments