Selasa, 8 September 2026

“Akan terjadi kemudian bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia; anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat; orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi,
taruna-tarunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan. Juga ke atas hamba-hambamu laki-laki dan perempuan akan Kucurahkan Roh-Ku pada hari-hari itu.” (Yoel 2:28-29)

Beberapa tahun lalu, saya mendapat kesempatan untuk mengunjungi sebuah kampung terpencil di Sumba Timur. Pemandangan yang terhampar di depan mata sungguh menggugah rasa takjub akan karya Pencipta Yang Maha Agung. Melewati sebuah tikungan, penduduk setempat yang mendampingi menunjuk ke bukit nun jauh di seberang. Indah memikat mata dan hati. Lalu, ia bercerita, terkadang terjadi krisis pangan akibat hama belalang. Ketika pasukan belalang menyerbu, dalam sekejap seluruh tanaman habis dilahap. Sungguh mengerikan dan menyedihkan.

Ribuan tahun silam, Nabi Yoel ben Petuel menubuatkan tibanya hari TUHAN (yom YHWH) yang mencekam. Berbeda dengan nyanyian “Hari ini harinya Tuhan”, yom YHWH tak lain dari hari penghakiman dahsyat! Serbuan belalang digambarkan sedahsyat bencana berskala apokaliptik: Begitu pekatnya sampai-sampai bumi gemetar, matahari dan bulan menggelap (Yoel 2:10).

Dalam visi Nabi, bencana menyimpan pesan Ilahi. Hati Tuhan tetap berkobar-kobar dengan belas kasihan. Yang dirindukan-Nya adalah pertobatan sejati: “Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu” (2:12). Ia berjanji akan memulihkan hidup umat-Nya. Tanah kembali menghasilkan makanan berlimpah-limpah. Tak hanya dalam dimensi material, Ia juga menjanjikan pemulihan dan kelimpahan berdimensi spiritual. Kelak Tuhan akan mencurahkan Roh-Nya kepada tua-muda, laki-laki dan perempuan.

Tak lagi menjadi milik segelintir pemangku jabatan tertentu (imam, raja, dan nabi), kuasa Ilahi akan dicurahkan berlimpah-limpah kepada “semua manusia” (kol basar). Dalam bahasa kini, Roh Ilahi menerobos sekat-sekat sosial. Kuasa-Nya merakyat, tak tergenggam lagi sebagai hak eksklusif pemangku jabatan tertentu, termasuk para “rohaniwan”. Dalam tradisi gereja Reformasi, prinsip bernapas universal ini dikenal sebagai “imamat am” orang percaya. Ketika krisis menuntut kita untuk berjuang demi kehidupan bersama yang lebih manusiawi, Roh itu menginspirasi dan memberdayakan kita untuk terus menyampaikan suara kepedulian-Nya. Ia dicurahkan berlimpah-limpah, untuk semua, dan untuk kepentingan semua.

Inti renungan: Krisis dan bencana kerap menyimpan pesan Ilahi yang mengajak kita mengoyak hati dan mengubah hidup kita. Pada gilirannya, Tuhan mencurahkan Roh-Nya untuk menginspirasi semua kita agar menyampaikan suara-Nya dan berjuang bersama bagi hidup yang lebih manusiawi.

Lagu: PKJ 97:1 “Roh Kudus, kuatkanlah kami”

Doa: Ya Roh Kudus, Engkaulah Roh Pencipta dan Pemelihara Semesta. Ketika berbagai krisis terjadi akibat ulah kami manusia, kami mohon agar Engkau mengingatkan kami dan mengubah hidup kami. Curahkanlah kuasa-Mu untuk meneguhkan dan memperlengkapi kami agar terus menyuarakan kebenaran-Mu demi hidup sesama yang lebih berkeadilan dan manusiawi. [ATJ]

Categories: Terang Hidup

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *