Rabu, 09 September 2026
Karena itu, janganlah khawatir tentang hari esok, karena hari esok mempunyai kekhawatirannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari. (Matius 6:34)
Sekitar empat dekade lalu, untuk pertama kalinya saya membuka sebuah buku bersampul gelap berjudul “Alkitab”. Buku itu tebal dan ketebalannya memancing rasa ingin tahu. Ketika ditanya kepada teman yang membawanya untuk pelajaran agama Kristen, ia memberitahu: “Buku ini kitab suci kami”. Lalu saya meminjamnya untuk dibawa pulang dan membacanya dengan rasa penasaran. Buku yang tidak selalu mudah dipahami itu saya kembalikan karena terasa “asing”.
Namun, samar-samar muncul ingatan, sepertinya dalam buku orang Kristen ada cerita tentang Yesus. Saya meminjamnya lagi dan melompat ke babak baru berjudul “Injil Matius”. Beberapa bab kemudian sampailah ke bagian “Khotbah di Bukit” (Matius 5-7). Membaca bagian ini hati saya terpikat. Ini ajaran seorang Guru yang luar biasa! Pada perkenalan pertama, Yesus memang terkesan sebagai Guru Hikmat. Ia mengajarkan kebaikan “Bapa di surga” yang tidak sibuk membatasi siapa yang layak menerima hujan dan matahari (5:45)!
Hari ini kita diajak menyimak salah satu aspek dari “seni hidup” yang dituturkan-Nya. Yesus berbicara tentang hidup sehari-hari yang tak luput dari kekhawatiran. Apa pun bentuk kebutuhan hidup, rata-rata manusia memang “gelisah” memikirkan masa depan. Tema ini bersifat universal. Sebagian tradisi hikmat di Asia menganjurkan upaya untuk melepaskan diri dari “kemelekatan” terhadap beragam keinginan yang membelenggu hidup dan pikiran, termasuk juga keinginan untuk menguasai masa depan. Meditasi, misalnya, dianjurkan sebagai jalan menuju kejernihan, untuk menghayati “saat kini dan di sini”.
Ajaran Yesus menggemakan nada sejajar: “kesusahan sehari cukuplah untuk sehari” (6:34). Esok mempunyai kekhawatirannya sendiri. Tak sejengkal pun dapat kita tambahkan pada jalan hidup kita dengan kekhawatiran.
Ciri khas hikmat yang dibawa Yesus dari Nazaret terletak pada keyakinan akan kebaikan Ilahi. Alam dan ciptaan bagaikan buku yang terbuka untuk kita baca. Burung, bunga, dan rumput mencerminkan kebaikan Pemeliharanya. Manusia tentu tak kalah nilainya di hadapan Allah! Di tengah begitu banyak kabar buruk dan kegamangan yang membayangi dunia kita kini, tugas abadi kita adalah bekerja, berdoa, serta mempercayakan diri kepada-Nya.
Inti renungan: Kekhawatiran adalah bagian yang terpisahkan dari hidup kita sehari-hari. Namun, ajaran Yesus mengingatkan kita untuk terus mempercayakan diri kepada Allah Pemelihara kehidupan kita.
Lagu: PKJ 302 “Jangan kuatir” (Nada te turbe)
Doa: Ya Bapa, Pemelihara hidup kami, di tengah derasnya kabar buruk yang melanda dunia kami, betapa sering kami merasa gamang dan khawatir tentang masa depan kami, sebagai pribadi, keluarga, maupun sebagai umat yang Kauutus ke tengah-tengah dunia ini. Di balik segala keraguan dan kecemasan kami, ajarlah kami untuk terus mempercayakan hidup kami kepada-Mu. Kami mohon agar hikmat-Mu terus menuntun kami untuk melangkah hari demi hari bersama-Mu. Amin. [ATJ]
0 Comments