Sabtu, 12 September 2026
Ketika Allah melihat apa yang mereka lakukan, bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, menyesallah Allah atas malapetaka yang akan dibuat-Nya terhadap mereka seperti yang telah disampaikan-Nya. Ia pun tidak jadi melakukannya (Yunus 3:10)
“Yunus di perut ikan”, siapa yang tidak mengenal cerita ajaib ini? Cerita yang luar biasa populer! Namun, pesan utama kitab Yunus sesungguhnya terletak di luar perut ikan! Tuhan mengutus Yunus ke Niniwe, ibukota musuh Israel. Tujuannya memperingatkan mereka supaya bertobat. Ironisnya, Yunus justru tidak menginginkan musuhnya bertobat!
Keengganan Yunus dapat dimaklumi. Asyur adalah bangsa yang sangat kejam. Mereka menghukum tawanan mereka dengan menusuk rahangnya, mencungkil matanya, atau memutilasi tubuhnya. Kejahatan dan kekejaman mereka sepantasnya dibalas dengan hukuman berat. Tuhan malah membuka pintu pertobatan bagi bangsa bengis ini!
Ajaibnya, Niniwe bertobat ketika mendengar pemberitaan Yunus. Rajanya hingga rakyat jelata, tua muda, berkabung dan berpuasa sebagai ungkapan pertobatan. Hewan pun tak dikecualikan! Perubahan hidup ini menggerakkan hati Allah. Ia “menyesal”, membatalkan niat-Nya untuk menghukum mereka. Lagi-lagi, ironisnya, respons Yunus berbanding terbalik. Seharusnya ia bersyukur atas pertobatan bangsa biadab itu. Ia malah marah, gusar, dan ingin mati (Yunus 4:1-4)!
Sadar atau tidak, sikap Yunus bisa menjadi sikap kita bila kita tidak bersedia melihat “musuh”, orang dan kelompok yang berbeda kepentingan dengan kita, menerima kebaikan dan rahmat Ilahi. Seorang teman yang mengajar di Universitas Kristen Duta Wacana, Yogyakarta, mengungkapkannya dengan lugas: “Mengatakan ‘Tuhan itu baik’ itu gampang, tapi pertanyaannya: Masihkah kita bisa berkata Tuhan itu baik ketika kebaikan-Nya justru dialami oleh orang yang kita anggap lawan, saingan, bahkan orang yang menurut kita tidak pantas? Jangan-jangan tanpa sadar kita seperti Yunus, memonopoli kebaikan Tuhan dan bahkan memonopoli Tuhan itu sendiri, seolah-olah Dia hanya milik kita, milik kelompok kita, milik cara pikir teologi kita.” (Dr. Daniel K. Listijabudi).
Inti renungan: Hari ini kita diingatkan untuk “bertobat”, mengubah cara pandang kita tentang Tuhan dan orang “lain”, termasuk mereka yang tidak sejalan dengan kita dan bahkan membenci kita. Tuhan sendiri yang memberi teladan bagi kita untuk mengampuni dan merangkul “yang lain”.
Lagu: Kidung Keesaan 146 “Yunus, Yunus”
Doa:
Ya Tuhan Allah yang pengasih dan penyayang, Engkau merindukan agar semua orang berbalik kepada-Mu. Ajarilah kami untuk meneladani cinta kasih-Mu agar kami dimampukan mengasihi sesama kami, bahkan mereka yang tidak sejalan dengan kami dan membenci kami. Singkirkanlah segala akar kepahitan, dendam, niat jahat dari hati kami, dan jadikanlah kami saluran damai-Mu. Amin. [ATJ]
0 Comments