TEOLOGI MINJUNG DAN EKOTEOLOGI:

RELEVANSINYA BAGI PERJUANGAN RAKYAT ASIA

Abstrak

Teologi Minjung dan Ekoteologi merupakan dua pemahan teologi kontekstual yang memiliki relevansi yang sangat mendalam bagi perjuangan rakyat Asia. Teologi Minjung lahir dari pengalaman penderitaan rakyat jelata di bawah represi politik, penindasan ekonomi, dan ketidakadilan structural yang dilakukan oleh pemerintah Korea pada waktu itu, dimana para pejabat pemerintahan memberlakukan rakyatnya sebagai objek atau alat untuk mencapai kebutuhan pemerintan. Ekoteologi, di sisi lain, berkembang dalam konteks global sebagai respons terhadap krisis ekologis yang semakin parah akibat modernisasi, industrialisasi, dan kapitalisme global. Kedua pemahaman ini meskipun berbeda titik tolaknya, sesungguhnya bertemu dalam kesadaran yang sama: yaitu dengan melihat penderitaan rakyat dan penderitaan bumi (ekologi). Integrasi antara Teologi Minjung dan Ekoteologi yang dapat melahirkan suatu paradigma baru bagi perjuangan rakyat Asia, khususnya dalam menghadapi kombinasi penindasan struktural dan krisis lingkungan. Dengan menelaah sejarah, tokoh, dan gagasan inti dari kedua teologi, Perpaduan ini dapat menjadi basis teologi rakyat Asia yang membebaskan, ekologis, dan transformatif.

Kata kunci:  Teologi Minjung, Ekoteologi, Perjuangan, Rakyat Asia.

  1. PENDAHULUAN

Asia merupakan benua yang penuh dengan dinamika sosial, politik, dan budaya. Sebagai wilayah dengan populasi terbesar di dunia, Asia menjadi ruang di mana ketidakadilan sosial dan penderitaan ekologis terjadi secara masif. Di satu sisi, Asia dikenal sebagai pusat pertumbuhan ekonomi global, tetapi di sisi lain masih menyimpan luka sejarah panjang berupa penjajahan, perang, otoritarianisme, dan eksploitasi kapitalistik[1]. Rakyat kecil di Asia yang dalam tradisi teologi Korea disebut sebagai Minjung sering menjadi pihak yang paling menderita akibat sistem sosial-politik dan ekonomi yang tidak adil[2]. Krisis ekologi memperparah penderitaan ini. Perubahan iklim, polusi, dan eksploitasi sumber daya alam tidak hanya merusak lingkungan hidup, tetapi juga memperburuk kondisi rakyat miskin yang bergantung langsung pada alam untuk kelangsungan hidup mereka[3]. Fenomena banjir, kekeringan, hilangnya lahan pertanian, dan bencana alam semakin memperjelas bahwa perjuangan rakyat Asia bukan hanya melawan penindasan sosial-politik, tetapi juga melawan ketidakadilan ekologis. Dalam konteks inilah, muncul kebutuhan mendesak untuk merumuskan sebuah refleksi teologis yang mampu menjawab penderitaan ganda tersebut: penderitaan sosial dan penderitaan ekologis. Teologi Minjung yang lahir dari konteks perjuangan rakyat Korea melawan kediktatoran pemerintah dan ketidakadilan sosial pada 1970-an, menawarkan sebuah paradigma pembebasan yang berpihak pada rakyat tertindas[4].

Di sisi lain, Ekoteologi berkembang sebagai respons terhadap krisis lingkungan global, menekankan hubungan antara iman, alam, dan tanggung jawab manusia dalam menjaga ciptaan. Karena dalam perspektif ekoteologi dapat dipahami dalam kerangka teologis yang holistik dimana hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan, menggabungkan ajaran penciptaan dengan tanggungjawab ekologis. Melalui pendekatan ini keadailan ekologis dan tanggungjawab lingkungan dapat menjadi bagian integral dan paktik keagamaan dalam kehidupan sehari-hari. Ekoteologi berusaha menjawab tantangan lingkungan modern dengan merujuk kepada ajaran Kristen tentang penciptaan, penebusan dan eskatologi. Dalam pandangan ini alam dilihat sebagai ciptaan Tuhan yang harus dihargai dan dilindungi, bukan hanya sekedar sumber daya yang dapat dieksploitasi. Dengan demikian, dalam pamahan ekotelogi bahwa tanggungjawab manusia terhadap lingkungan dan alam bukan hanya masalah moral dan sosial, tetapi juga merupakan panggilan spiritual untuk memelihara integritas ciptaan sebagai bagian dari iman dan ketaatan kepada Tuhan[5]. Sehingga hal ini menuntut semua aras manusia baik rakyat maupun pemerintah yang memiliki kuasa melakukan perubahan paradigma dari eksploitasi terhadap alam menuju penatalayanan yang berkelanjutan, adil dan terarah. Pertemuan antara Teologi Minjung dan ekoteologi dapat memberikan kerangka reflektif yang kuat untuk membaca realitas Asia masa kini. Keduanya menekankan dimensi praksis teologi: bahwa iman tidak hanya berhenti pada doktrin atau ritual, melainkan diwujudkan dalam perjuangan nyata demi kehidupan yang adil dan berkelanjutan, baik bagi manusia maupun bagi alam semesta. Dengan mengintegrasikan dua pendekatan ini, kita dapat memahami bahwa penderitaan rakyat kecil dan penderitaan alam bukanlah dua persoalan terpisah, melainkan saling terkait dalam sistem penindasan global.

  1. ISI / PEMBAHASAN
    1. Teologi Minjung

Penindasan dan kekerasan merupakan persoalan terbesar di dunia karena sering dan selalu terjadi di berbagai tempat dan dalam berbagai bidang kehidupan. Baik itu dibidang politik, pemerintahan, pendidikan, masyarakat bahkan di dalam keluarga. Bukan hanya itu, banyak kaum-kaum elite atau orang-orang yang memiliki kekuasaaan menindas yang miskin atau masyarakat biasa demi kepentingan pribadi. Sehingga menimbulkan diskriminasi dalam kehidupan sosial bermasyarakat, oleh karena itu persoalan ini tetap menjadi relevan hingga saat ini dalam berbagai bidang ilmu termasuk Teologi. Teologi turut berpartisipasi dalam menyikapi masalah-masalah kekerasan yang terjadi, Salah satunya ialah Teologi Minjung[6]. Teologi Minjung lahir di Korea Selatan pada tahun 1970-an sebagai respons terhadap kondisi sosial, politik yang penuh penindasan. Kata “Minjung” berasal dari dua kata yaitu Min (rakyat) dan Jung (banyak), Minjung artinya berarti rakyat/orang banyak, atau kaum tertindas yang menjadi korban ketidakadilan structural. Teologi ini menekankan bahwa rakyat bukan hanya sebagai objek belas kasihan, melainkan subjek sejarah yang memiliki daya untuk melawan dan mengubah realitas sosial[7]. Pengalaman minjung dicirikhaskan dengan Han. Han adalah perasaan gusar, susah, marah, tertekan, tak berdaya, jengkel, dsb. Perasaan ini bercampur dengan keinginan terhadap masa depan yang lebih baik. Han bersifat individual dan juga kolektif. Han merupakan sebuah pengalaman hidup rakyat yang tertindas. Perasaan ini muncul sebagai sebuah alasan dari upaya pembebasan dalam teologi Minjung[8]

Teologi Minjung merupakan refleksi sejumlah pemikir bersama masyarakat yang dilakukan oleh orang-orang Kristen di Korea Selatan untuk melepaskan diri dari penderitaan-penderitaan. Gagasan para tokoh pencetus teologi Minjung lebih cenderung melihat kepada orang-orang yang terpinggirkan dan diambil subjektivitas mereka dalam sejarah oleh orang-orang luar atau para penindas internal. Minjung mengacu pada rasa benci terhadap ketidakadilan dan penderitaan, ketidakberdayaan dalam menghadapi berbagai rintangan dan masalah, tindakan kekerasan yang terjadi dimana-mana dan perasaan yang ditinggalkan[9]. Salah satu tokoh penting dalam teologi ini adalah “Ahn Byung-mu”. Ia menekankan bahwa Yesus hadir di tengah orang-orang kecil, para penderita, dan kaum yang terpinggirkan. Bagi Ahn, Injil hanya dapat dimengerti bila dibaca dari perspektif minjung. Dalam konteks Asia, khususnya Korea, minjung merujuk pada buruh, petani, mahasiswa, dan kelompok miskin yang melawan kediktatoran militer atau pemerintah[10].

  • Ekoteologi

Ekoteologi adalah cabang teologi yang berfokus pada relasi antara iman dan lingkungan hidup. Istilah ini semakin populer sejak abad ke-20 ketika krisis ekologis global semakin nyata. Ekoteologi menekankan bahwa alam bukan sekadar sumber daya bagi manusia, tetapi bagian dari ciptaan Allah yang harus dihormati dan dilindungi.
Dalam tradisi biblis, terdapat banyak dasar yang mendukung pemikiran ekologis. Kitab Kejadian menggambarkan bumi dan segala isinya sebagai ciptaan yang “sungguh amat baik” (lih.Kej.1:31) dan Allah kemudian memberi manusia itu mandat untuk “menguasai” bumi dan “menaklukkannya” (lih. Kej. 1:28) yang dalam ekoteologi ditafsirkan bukan sekedar lisensi untuk eskploitasi tanpa batas, melainkan sebagai panggilan untuk penatalayanan yang bijaksana.[11] Tokoh seperti Sallie McFague menegaskan pentingnya memahami dunia sebagai “tubuh Allah”. di mana kerusakan terhadap bumi berarti juga melukai relasi dengan Allah[12]. Salah satu kritik utama ekoteologi adalah terhadap paradigma antroposentris yang mengakar dalam tradisi modern Barat. Pandangan ini menempatkan manusia di atas segala ciptaan, sehingga alam diperlakukan hanya sebagai objek eksploitas. Padahal, krisis ekologis modern sebagian besar muncul akibat sistem ekonomi kapitalis dan industrialisasi yang lahir dari paradigma tersebut.

Kedua pemahaman teologi ini memberikan sumbangsih meskipun berakar pada konteks yang berbeda. Teologi Minjung dan Ekoteologi memiliki titik temu yang kuat. Keduanya lahir dari penderitaan dan ketidakadilan: Minjung lahir dari penderitaan rakyat, Ekoteologi lahir dari penderitaan bumi. Teologi Minjung memberikan sumbangan penting dalam mengatasi krisis ini karena sama-sama berpihak pada korban sistem penindasan. Jika Teologi Minjung memperjuangkan rakyat tertindas, Ekoteologi memperjuangkan alam yang dieksploitasi, keduanya dapat dipertemukan dalam semangat solidaritas kosmik. Dengan demikian, integrasi keduanya menegaskan bahwa membela rakyat berarti juga membela bumi, dan sebaliknya.

  • Konteks Sosial-Politik dan Ekologis Asia

Rakyat kecil di Asia menghadapi berbagai bentuk penindasan yang kompleks, baik secara ekonomi, politik, maupun sosial. Di banyak negara, industrialisasi dan globalisasi ekonomi telah memperkaya segelintir elit, tetapi memiskinkan mayoritas rakyat. Para buruh pabrik, petani kecil, nelayan tradisional, serta masyarakat adat menjadi korban sistem ekonomi kapitalistik yang berorientasi pada keuntungan semata. Di Korea Selatan pada tahun 1970-1980-an, rezim militer/ Pemerintah menekan gerakan rakyat dengan kekerasan[13]. Di Indonesia, Orde Baru mengekang kebebasan rakyat sambil mengeksploitasi sumber daya alam untuk kepentingan segelintir kelompok. Di Filipina, kekuasaan keluarga Marcos selama puluhan tahun menjerumuskan rakyat dalam utang dan kemiskinan. Sementara itu, di India, sistem kasta dan neoliberalisme ekonomi telah memperparah jurang ketidaksetaraan sosial. Selain penindasan sosial, Asia juga mengalami krisis ekologis yang parah. Benua ini menjadi episentrum berbagai bencana lingkungan: banjir besar di Asia Tenggara, pencairan gletser Himalaya, deforestasi di Indonesia dan Malaysia, serta polusi udara di Tiongkok dan India. Laporan IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) menunjukkan bahwa Asia adalah salah satu wilayah paling rentan terhadap dampak perubahan iklim, mulai dari kenaikan permukaan laut yang mengancam kota-kota pesisir hingga krisis air bersih yang menghantui kawasan Asia Selatan[14].

  • Peran Gereja dalam Perjuangan Rakyat Asia

Di tengah situasi penindasan dan krisis ekologis ini, Gereja memainkan peran yang sangat penting. Sebagai gambar Allah, manusia dipanggil untuk mengembangkan hubungan penuh kasih yang ditandai dengan peran serta yang produktif dan konstruktif dalam bidang-bidang kehidupan. Orang Kristen harus menolak godaan untuk mendukung institusi kekuasaan yang otoriter atau menjadi oportunis dalam situasi kompetisi kekuasaan yang tak terkendali, dalam situasi pengrusakan alam, terjadinya penindasan yang menyebabkan penderitaan pada kehidupan manusia dan semesta[15]. Dengan demikian, konteks Asia memperlihatkan bahwa agama tidak hanya berfungsi sebagai sumber spiritualitas pribadi, tetapi juga sebagai kekuatan sosial-politik yang mampu mendorong perubahan struktural.

Teologi Minjung dan Ekoteologi, sebagai dua aliran teologi kontekstual yang hadir untuk menafsirkan penderitaan itu secara kritis dan menyajikan alternatif praksis berupa perlawanan. Teologi Minjung berfokus pada rakyat jelata yang tertindas, sementara Ekoteologi menyuarakan penderitaan bumi yang dirusak manusia. Dalam konteks Asia, keduanya saling melengkapi karena rakyat miskin adalah kelompok yang paling terdampak krisis ekologis. Oleh karena pengalaman dari orang-orang yang ditindas itulah maka kaum kristiani berefleksi tentang makna kabar baik dalam situasi tersebut. karena pada waktu itu banyak juga dari para teolog pertama minjung yang pernah mendekam di penjara. Dari pengalaman inilah teologi minjung muncul, maka dalam peristiwa ini para Teolog mengistilahkan/memakai kata minjung berarti orang-orang yang ditindas secara ekonomi, politis, sosial.[16]

Gereja di Asia harus bersama-sama hadir untuk menyuarakan suara kenabian kepada pemerintah, supaya menjadikan masyarakat Asia khususnya di Korea atau Indonesia, sebagai Subjek dari pemerintahan, dimana rakyat harus memiliki peran aktif, partisipatif dan menjadi pelaku utama dalam mengambil sebuah kebijakan, bukan sekedar penerima kebijakan. Gereja dan komunitas iman di Asia dipanggil untuk melakukan transformasi. Gereja tidak boleh hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga basis perjuangan rakyat. Liturgi dan doa harus berakar dalam realitas penderitaan rakyat dan bumi. Dengan demikian, iman menjadi kekuatan yang menggerakkan perubahan sosial dan ekologis, bukan sekadar pelarian dari kenyataan. Karena Gereja sebagai komunitas iman kepada Yesus Kristus Karena itu, Gereja memiliki tugas panggilan yakni untuk memberikan bimbingan bimbingan pastoral, turut dalam terselenggaranya suatu kehidupan sosial-politik yang benar, adil dan mendatangkan damai sejahtera bagi semua orang, dengan demikian gereja hadir sebagai perwujudan Allah yang menghadirkan Misi Allah di dunia ini. 

  •  Relevansi bagi Perjuangan Rakyat Asia

Relevansi utama dari integrasi Teologi Minjung dan ekoteologi bagi Asia terletak pada peran teologi sebagai suara kenabian. Dalam tradisi kenabian Alkitab, nabi tidak hanya berbicara tentang keselamatan rohani, tetapi juga mengecam ketidakadilan sosial, ekonomi, dan politik. Dengan demikian, teologi Asia perlu menghidupkan kembali fungsi profetik ini: menjadi corong suara bagi mereka yang tidak bersuara, baik rakyat miskin maupun bumi yang dirusak. Kalau pun rang-orang Kristen yang menderita pada waktu itu, mereka menderita bukan untuk diri mereka sendiri, melainkan untuk seluruh masyarakat. Penderitaan atas nama bangsa, ini menemukan kesejajaran dalam penderitaan Yesus di atas kayu salib atas nama seluruh umat manusia[17]. Dalam konteks Asia, Asia menghadapi dua tantangan besar sekaligus: ketidakadilan sosial dan krisis ekologis. Integrasi Teologi Minjung dan ekoteologi menunjukkan bahwa perjuangan keadilan tidak bisa parsial. Gerakan Agama, buruh, petani, masyarakat adat, dan aktivis lingkungan perlu berjalan bersama dalam solidaritas. Misalnya, perjuangan menolak pembangunan bendungan, pembangunan perusahaan-perusahaan, yang memberikan dampak negatif bagi manusia dan alam. Oleh karena itu, teologi tidak boleh berhenti pada analisis doctrinal dan liturgy, tetapi harus terjun langsung dalam perjuangan rakyat dan gerakan lingkungan. Gereja dan komunitas iman di Asia dipanggil untuk menjadi suara profetik yang membela kehidupan, bukan sekadar institusi ritual.

  1. KESIMPULAN

Teologi Minjung merupakan teologi pembebasan yang lahir dari rasa dan pengalaman-pengalaman orang-orang yang tertindas, terpinggirkan, miskin, baik secara ekonomi, politik dan sosial. Oleh karena keterasingan yang dialami oleh mereka, Yesus dipandang sebagai bagian dari Minjung sebab di dalam Markus Yesus digambarkan sebagai sahabat bagi para pemungut cukai dan orang-orang berdosa. Untuk itu, bagi orang-orang yang ditindas dan diasingkan, mereka memandang Yesus sebagai penyelamat dan pemberi harapan baru dalam kehidupan mereka yang menderita itu. Selain itu juga salib dipandang sebagai lambang penderitaan bagi mereka, sebab kehidupan yang dialami mereka ialah kehidupan yang menderita. Pemahaman antara Teologi Minjung dan ekoteologi menemukan titik temu dalam pengalaman penderitaan. Rakyat kecil dan alam sama-sama menjadi korban sistem penindasan global yang berwajah kapitalisme, industrialisasi, dan otoritarianisme.

Keduanya menekankan pentingnya solidaritas kosmik, yaitu solidaritas yang meliputi manusia dan seluruh ciptaan. Relevansi integrasi kedua teologi ini sangat nyata bagi perjuangan rakyat Asia. Teologi tidak lagi sekadar wacana abstrak, melainkan energi spiritual dan praksis yang membela kehidupan. Ia menginspirasi gerakan rakyat, memperkuat perjuangan keadilan sosial, dan mendorong perlawanan terhadap krisis ekologis. Teologi Minjung dan Ekoteologi menghadirkan sebuah panggilan profetik: bahwa iman sejati hanya dapat dihidupi dalam keberpihakan kepada rakyat kecil dan dalam kepedulian terhadap bumi yang terluka. Dalam konteks Asia yang sarat penderitaan, integrasi keduanya bukan hanya relevan, melainkan mendesak demi terciptanya kehidupan yang lebih adil dan berkelanjutan. Maka dalam konteks masyarakat Asia Khususnya Indonesia, bahwa Geraja dan umat Kristen dipanggil untuk mengambil peran aktif dalam advokasi lingkungan, menyuarakan kebijakan yang adil, dan menerapkan gaya hidup yang berkelanjutan sebagai bagian dari panggilan iman. Sebagai orang percaya yang dipanggil dalam persekutuan Kristus, kita harus tampil dan berani dalam menyuaran suara kenabian bagi pemegang kekuasan yang melakukan penindasan kepada rakyat dan pengrusakan kepada alam.  

DAFTAR PUSTAKA

A.A. Yewangoe, “Theologia Crucis Di Asia: Pandangan-pandangan Orang kristen

Asia Mengen ai Penderitaan dalam Kemiskinan dan Keberagamaan di Asia”, Jakarta: BPK-GM, 2004.

Delon Patrick F. Mussa, Grace V. Desidry, “Teologi Minjung di Korea dan

Implikasinya bagi masyarakat di Papua,” Institut Injili Indonesia, Papua: Jurnal MISSIO ECCLESIAE, Vol. 11 No. 2, 2022.

Gilbert Christian Kristamulyana, Teologi Pembebasan Minjung dalam Menghadapi

Ketimpangan Sosial dan Ketidakadilan sebagai Dampak dari Revolusi Industri 4.0, Yogyakarta: Universitas Kristen Duta Wacana Fakultas Teologi, 2020.

Ahn Byung-Mu Kim: “Jesus and the Minjung”. Christian Literature Press, 1983.

Michael Amalados, “Teologi Pembebasan Asia”, Yogyakarta: Pustaka Belajar,

Januari 2001.

Suh Nam-Dong: “Minjung Theology: People as the Subjects of History” Seoul:

Christian Conference of Asia, 1981

Riska, “Eketeologi Kristen: Teologi Penciptaan dan Tanggungjawab Terhadap

Lingkungan”, IAKN Toraja, Indonesia: Jurnal HUMANIORA, Vol. 2 No. 9 September 2024.

Mc Fague Sillie, “The Body of God: An Ecological Theology” Minneapolis: Fortress

Press, 1993

IPCC. Climate Change 2022: Impacts, Adaptation, and Vulnerability. Cambridge

University Press, 2022.

Yahya Wijaya, Cui Wantian, Christoph S, Terj. Mega Wati: “Iman dan Nilai-Nilai

Kristiani” Geneva: Globethisc.net China Cristian, 2017.

Michael Amalados, “Teologi Pembebasan Asia”, Yogyakarta: Pustaka Belajar,

Januari 2001.


[1] Michael Amalados, “Teologi Pembebasan Asia”, (Yogyakarta: Pustaka Belajar, Januari 2001), hal. 8-10

[2] Kim, Ahn Byung-Mu: “Jesus and the Minjung”. (Christian Literature Press, 1983). Hal. 55-56

[3] Ibid. Hal. 44-46

[4] Suh Nam-Dong: “Minjung Theology: People as the Subjects of History (Seoul: Christian Conference of Asia, 1981), Hal. 55-57

[5] Riska, “Eketeologi Kristen: Teologi Penciptaan dan Tanggungjawab Terhadap Lingkungan”, (IAKN Toraja, Indonesia: Jurnal HUMANIORA, Vol. 2 No. 9 September 2024), hal. 1062

[6] Delon Patrick F. Mussa, Grace V. Desidry, “Teologi Minjung di Korea dan Implikasinya bagi masyarakat di Papua,” (Institut Injili Indonesia, Papua: Jurnal MISSIO ECCLESIAE, Vol. 11 No. 2, 2022), hal. 1

[7] Kim, Ahn Byung-Mu: “Jesus and the Minjung”. (Christian Literature Press, 1983). Hal. 57

[8] Gilbert Christian Kristamulyana, Teologi Pembebasan Minjung dalam Menghadapi Ketimpangan Sosial dan Ketidakadilan sebagai Dampak dari Revolusi Industri 4.0, (Yogyakarta: Universitas Kristen Duta Wacana (Fakultas Teologi), 2020) hal. 4-5

[9] Ibid. hal. 2

[10] Kim, Ahn Byung-Mu: “Jesus and the Minjung”. (Christian Literature Press, 1983). Hal. 58

[11] Riska, “Eketeologi Kristen: Teologi Penciptaan dan Tanggungjawab Terhadap Lingkungan”, (IAKN Toraja, Indonesia: Jurnal HUMANIORA, Vol. 2 No. 9 September 2024), hal. 1067

[12] Sallie McFague, “The Body of God: An Ecological Theology” (Minneapolis: Fortress Press, 1993), hlm. 78–80

[13] Ibid, hal. 59

[14] IPCC. Climate Change 2022: Impacts, Adaptation, and Vulnerability. (Cambridge University Press, 2022), hal. 68-70

[15] Yahya Wijaya, Cui Wantian, Christoph S, Terj. Mega Wati: “Iman dan Nilai-Nilai Kristiani” (Geneva: Globethisc.net China Cristian No.1, 2017), hal. 38-39

[16] Michael Amalados, “Teologi Pembebasan Asia”, (Yogyakarta: Pustaka Belajar, Januari 2001), hal. 4-5

[17] A. A. Yewangoe, “Theologia Crucis Di Asia: Pandangan-pandangan Orang kristen Asia Mengen ai Penderitaan dalam Kemiskinan dan Keberagamaan di Asia”, (Jakarta: BPK-GM, 2004) hal. 170-174

Categories: Artikel

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *