Minggu, 3 Setelah Epiphanias, 26 Januari 2025
Epistel : Pengkhotbah 4 : 9-12
Pdt. Yogi Tri Putra Simamora, S.Th
(Pendeta GKPI Res. Jumateguh)
I. Pendahuluan
Ada sebuah pepatah mengatakan: “satu lawan terlalu banyak, seribu kawan terlalu
sedikit”. Pepatah ini sesungguhnya ingin mengatakan kepada kita, supaya jangan ada dari
antara kita yang ingin mencari musuh, melainkan carilah teman sebanyak-banyaknya. Tetapi
terkadang, realitanya masih banyak orang yang tidak mengindahkan hal itu. Orang yang
demikian akan merasakan kesepian dan itu akan membuatnya lemah. Karena sesungguhnya
manusia di dunia ini adalah makhluk sosial, yang dimana kita tidak bisa hidup sendiri di
dunia ini. Hal seperti itulah yang ditekankan nas firman Tuhan saat ini, adalah sebuah
kebodohan jika seseorang tidak mau hidup dalam pertemanan. Buku Pengkhotbah ini,
mengingatkan kita tentang pentingnya pertemanan dan pergaulan yang baik. Dan jika kita
mengingat bagaimana Tuhan Allah mengatakan kepada manusia ciptaanNya “tidak baik
kalau seorang diri saja”, itulah sebabnya Tuhan memberikan seseorang untuk menolongnya.
Seorang Sosiolog yang bernama Hassan Shadily juga mengatakan: “hanya di dalam
kelompok masyarakatlah, manusia bisa lebih baik, karena manusia adalah homo society
(makhluk berteman)”. Kalau Aristoteles mengatakan tentang hal pertemanan: “Manusia
ingin berteman karena menyadari kelemahan, menyadari perbedaan, dan ingin dilindungi”.
Kita diingatkan melalui nas ini, tidak ada gunanya hidup manusia kalau tidak memiliki
teman. Karena itulah kita diingatkan untuk membangun pertemanan dan pergaulan yang
baik dalam kehidupan kita.
II. Penjelasan Nas
Penulis Buku Pengkhotbah melihat suatu kebodohan dan kesia-siaan dalam hidup
ini, kalau seseorang itu tidak mementingkan relasi dan pertemanan. Pengkhotbah melihat
banyak orang yang memang tidak mementingkan hal itu. Orang-orang yang dilihatnya,
justru lebih fokus mencari kenikmatan dunia, mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya
dan mencari kekayaan di dunia ini. Suatu hari, dia sadar dan merenungkannya dalam
dirinya; untuk apa kenikmatan duniawi ini kucari sehingga aku menjadi kesepian dan dia
menyadari, serta merasakan kelaparan rohani. Dia tidak memiliki pergaulan dan petemanan,
sehingga ia mengatakan: “berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka
menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka. Kalau mereka jatuh, yang seorang
mengangkat temannya.” (ay. 9-10). Artinya kita harus menyadari betapa pentingnya hidup
di dalam pertemanan yang baik, karena akan saling melengkapi dan saling membutuhkan.
Tuhan menciptakan Hawa dari tulang rusuk Adam agar ada keterikatan dan keterkaitan (Kej.
2:20b-23). Tuhan mengkonsep dan menjadikan manusia itu berpasangan, laki-laki dan
perempuan agar terlihat bahwa hidup ini tidak hidup sendirian, melainkan harus ada hubungan, relasi dan hidup yang saling membutuhkan, serta melengkapi. Seperti yang
dikatakan Rasul Paulus: “Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah
dengan orang yang menangis” (Rom 12:15).
Orang yang tidak mementingkan pertemanan dalam hidup ini, akan merasakan rugi
dan sepi, karena ketika ia mengalami kesusahan tidak akan ada yang memberi ia
penghiburan dan semangat untuk bangkit. Ketika ia mengalami kesulitan hidup, tidak akan
ada yang menolongnya. Itulah sebabnya, kita harus mencari teman yang baik, karena
kekuatan dan pikiran kita ini adalah terbatas. Yesus memanggil kedua belas murid-Nya lalu
mengutus mereka berdua-dua (Mar. 6: 7), itu artinya supaya mereka memiliki rekan untuk
saling membantu dan saling menguatkan di dalam tugas yang diberikan Yesus kepada
mereka. Dan melalui pertemananlah supaya ada hidup bertolong-tolongan, seperti yang
dikatakan Rasul Paulus: “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu
memenuhi hukum Kristus” (Gal. 6:2). Melalui pengertian itulah, kiranya kita umat percaya
semakin menyadari tentang tujuan penciptaan Tuhan Allah kepada manusia, supaya
bertolong-tolongan dan saling mengasihi.
Bertolong-tolongan artinya tidak memandang status, jangan saling iri, tetapi saling
menerima kekurangan dan kelebihan antara satu dengan yang lain. Tuhan menciptakan
manusia itu dengan bentuk, rupa dan talenta yang berbeda-beda, tentu supaya hidup saling
melengkapi.
III. Renungan
Ketika seseorang yang tidak berteman itu sadar, pasti ia akan merasakan betapa
pentingnya hidup bergaul, berteman, bersosial, karena melalui hal itulah tercipta
penguatan, penghiburan, dan semangat. Akan tetapi di atas semuanya itu, kiranya
pertemanan itu haruslah digambarkan dengan sebuah tali, kalau hanya dua tali saja yang
dipintal akan mudah putus, tetapi tali tiga lembar tak mudah diputuskan (ay. 12). Artinya,
kalau hanya sekedar satu marga, satu perkumpulan, sekedar pertemanan duniawi yang
mengikat pertemanan itu akan mudah terputus. Tetapi harus ada pengikat sejati supaya
pertemanan itu tidak terputus, yaitu diikat di dalam Yesus Kristus. Oleh sebab itu, supaya
pertemanan di tengah kehidupan kita berjalan dengan baik, pertemanan yang saling
melengkapi, saling peduli dan saling menolong harus diikat dengan Kasih Kristus,
sebagaimana Kristus yang selalu mengasihi umat-Nya. Pertemanan yang diikat dengan kasih
Kristus tidak akan putus. Tetapi ketika pertemanan itu hanya diikat dengan uang, percayalah
maka petemanan itu akan berjalan hanya sebentar saja. Hanya di dalam Yesus Kristuslah
pertemanan itu berguna dan akan dapat menjadi berkat di dalam persekutuan kita. Amin.
0 Comments