Selasa, 20 Oktober 2026

Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: “Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati. (1 Samuel 16: 7)

Secara umum manusia sering kali menilai seseorang berdasarkan apa yang terlihat dari luar. Kita mungkin menganggap seseorang itu adalah orang baik berdasarkan penampilannya, atau lebih layak dihormati karena status dan jabatannya. Sebaliknya, kita juga bisa memandang biasa saja atau terkesan menganggap remeh kepada seseorang karena melihat penampilannya yang sederhana, kemampuannya yang terbatas atau kehidupannya yang tidak terlihat istimewa.

Namun melalui firman ini 1 Samuel 16: 7, kita diingatkan bahwa penilaian manusia tidak selalu sama dengan penilaian Tuhan. Firman ini disampaikan ketika Samuel diutus Tuhan ke rumah Isai untuk mengurapi salah seorang anak Isai menjadi raja Israel menggantikan Saul. Ketika Samuel melihat Eliab, anak Isai yang sulung, ia mengira bahwa Eliab adalah orang yang dipilih Tuhan karena penampilannya yang menarik. Kemudian Tuhan mengingatkan Samuel agar tidak menilai seseorang berdasarkan rupa, sebab manusia memiliki keterbatasan dalam menilai dan memahami orang lain.  Pada akhirnya, Tuhan memilih Daud yang akan diurapi menjadi raja.

Bisa jadi kita rajin melayani, tetapi apakah kita melakukannya dengan tulus? Kita mungkin dikenal sebagai orang yaang baik, tetapi bagaimana sikap kita ketika tidak ada seorang pun yang melihat? Kita mungkin mampu mengucapkan kata-kata yang indah, tetapi apakah perkataan itu berasal dari hati yang penuh kasih? Firman Tuhan ini mengajarkan kita bahwa Tuhan tidak selalu memilih berdasarkan ukuran dan penilaian manusia. Tuhan  mengetahui siapa kita sesungguhnya, bahkan ketika orang lain belum melihat potensi yang ada dalam diri kita. Karena itu, marilah kita lebih memperlihatkan keadaan hati kita daripada sekedar membangun penampilan luar.

Kesimpulan: Tuhan menghendaki hati yang tulus, rendah hati, taat dan bersedia dibentuk oleh firman-Nya.

Nyanyian: KJ No. 387: 1-2 Ku Heran Allah Mau Memb’ri 

Doa:
Ya Bapa yang Mahakuasa, tolonglah kami agar memiliki hati yang tulus, taat dan ajarlah kami untuk tetap melakukan yang terbaik sekalipun tidak dilihat atau dihargai oleh manusia. Amin. [RS]

Categories: Terang Hidup

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *