SABTU, 17 OKTOBER 2026
TUHAN kiranya membalas perbuatanmu itu, dan kepadamu kiranya dikaruniakan upahmu sepenuhnya oleh TUHAN, Allah Israel, yang di bawah sayap-Nya engkau datang berlindung.(Rut 2:12)
Pada Juni 2020, tiga nelayan Aceh, Faisal, Abdul Aziz, dan Raja, mendengar teriakan dari sebuah perahu pengungsi Rohingya yang mulai tenggelam di Selat Malaka. Mereka mendekat dan menyelamatkan sekitar seratus orang, termasuk perempuan dan anak-anak. Warga setempat kemudian ikut membantu membawa mereka ke darat dan menyediakan makanan. Di tengah bahaya, orang-orang itu tidak dibiarkan menghadapi keadaan sendirian.
Rut juga tahu rasanya hidup dalam keadaan rentan. Ia seorang janda dan pendatang dari Moab. Ketika Boas bertemu dengannya, ia memberkati Rut dengan kata-kata bahwa Rut telah datang berlindung di bawah sayap Allah. Boas lalu menunjukkan kepeduliannya dengan memberi Rut kesempatan memungut jelai dan memastikan ia aman di ladangnya.
Kisah nelayan dan warga Aceh mengingatkan kita bahwa orang yang sedang terancam membutuhkan pertolongan nyata. Dalam kisah Rut, perlindungan Tuhan juga terasa melalui kebaikan Boas. Kita pun dapat menjadi bagian dari pertolongan itu, dengan menyambut orang yang merasa asing, memperhatikan mereka yang kesulitan, atau sekadar hadir saat seseorang membutuhkan teman.
Kiranya kita selalu percaya bahwa Tuhan menyertai mereka yang mencari perlindungan. Semoga melalui kepedulian sederhana kita, orang lain pun merasakan bahwa mereka tidak sendirian.
Nyanyian: KJ 440:1 “Di Badai Topan Dunia”
Doa:
Ya Tuhan, terima kasih karena Engkau menjadi tempat perlindungan bagi kami. Tolong kami peka terhadap sesama dan berani hadir bagi mereka yang membutuhkan. Amin. [IH]
0 Comments