MINGGU, 11 OKTOBER 2026

Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih daripada korban-korban bakaran. (Hosea 6:6) (Hosea 6:1–6)

Dalam hubungan yang retak, ajakan untuk berdamai sering dimulai dengan kata-kata: “Mari kita mulai lagi.” Kata-kata itu penting, tetapi belum cukup untuk memulihkan kepercayaan. Pemulihan tampak ketika ada kesediaan untuk mendengar, mengakui kesalahan, dan menjalani perubahan dengan tekun. Tanpa itu, janji untuk berubah mudah terdengar seperti ucapan sesaat.

Melalui Hosea, umat Israel berseru, “Mari, kita akan berbalik kepada TUHAN.” Mereka percaya Tuhan dapat menyembuhkan dan memulihkan. Namun, Tuhan melihat bahwa kasih mereka seperti kabut pagi dan embun yang cepat hilang. Ada kerinduan untuk kembali, tetapi kerinduan itu perlu berbuah dalam kesetiaan yang bertahan.

Tuhan tidak menolak ibadah atau persembahan. Ia menegur ibadah yang tidak disertai kasih setia dan pengenalan akan Dia. Mengenal Allah berarti membiarkan kehendak-Nya membentuk hidup kita, termasuk cara kita memperlakukan sesama. Kembali kepada Tuhan bukan hanya meminta agar keadaan kita dipulihkan, melainkan juga bersedia dibarui agar hidup kita mencerminkan kasih-Nya.

Kita pun dapat bertanya: Apakah kita mencari Tuhan hanya ketika membutuhkan pertolongan? Apakah ibadah menolong kita menjadi lebih jujur, sabar, dan peduli? Tuhan mengundang kita datang kembali, bukan dengan janji yang muluk-muluk, melainkan dengan hati yang mau dibentuk dan langkah kecil yang setia. Tuhan menyambut kita untuk kembali. Dengan pertolongan-Nya, kasih setia dapat bertumbuh dan tampak dalam hidup kita setiap hari.

Nyanyian: KJ 285:1 “Tuhankulah Gembalaku”

Doa:
Ya Tuhan, terimalah aku saat kembali kepada-Mu. Bentuklah hatiku agar kasihku tidak hanya terucap, tetapi nyata dalam sikap dan perbuatanku. Amin. [IH]

Categories: Terang Hidup

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *