Selasa, 29 September 2026

Bukankah kita sekalian mempunyai satu Bapa? Bukankah satu Allah menciptakan kita? Mengapa kita berkhianat seorang terhadap yang lain, sehingga kita menajiskan perjanjian nenek moyang kita? (Maleakhi 2:10)


Kekuatan satu bangsa itu sedikit banyaknya ditentukan oleh kualitas hidup keluarga. Sebab, keluarga akan membentuk pribadi seorang individu sampai menghasilkan suatu karakter tertentu. Jadi, ketika berada di tengah masyarakat, karakter yang terbentuk itu akan mewarnai proses sosial yang berlangsung. Apakah ia menjadi seorang yang dapat menunjukkan kesetiakawanan sosial? Atau, malah tampil antagonis menjadi seorang yang antisosial? Ketika masyarakat kita dikelilingi oleh orang yang antisosial, tentu bangsa kita menjadi rapuh dan tidak memiliki kekuatan yang merekatkan persatuan-kesatuan. Sehingga, nilai-nilai karakter, seperti kesetiaan perlu ditumbuhkan di tengah keluarga. Kesetiaan menjadi faktor yang menentukan kehidupan yang berdampak positif di tengah masyarakat.

Firman Tuhan saat ini mengajak kita belajar dari visi Allah melalui nabi Maleakhi bagi bangsa Israel. Allah menyoroti bagaimana kehidupan bangsa tersebut yang sudah semakin jauh dari perintah Tuhan. Kesetiaan umat telah dinodai oleh banyak perbuatan tercela, termasuk berlaku curang, kejam, bahkan perselingkuhan di tengah rumah tangga. Allah mengingatkan bangsa itu bahwa sejak dari kecil mereka telah dididik di tengah keluarga akan kesetiaan beriman kepada Allah yang Esa. Sehingga, kehidupan tidak setia mereka pada masa itu tidak dapat ditoleransi oleh Allah.

Marilah kita hidup setia di hadapan Allah dengan menunjukkan sikap hidup yang adil, bersih, dan jujur. Pastikanlah keluarga kita menjadi unit terkecil masyarakat dan gereja yang mampu mewarnai kehidupan di tengah dunia. Jauhkanlah segala bentuk kecemaran hidup yang membawa perpecahan, karena hal itu bukanlah ciri umat Tuhan yang setia. Pada akhirnya, hidup kita akan berpadanan dengan firman Tuhan, yang memancarkan kehidupan penuh damai sejahtera Allah di tengah dunia.

Kesetiaan kepada Allah bukan hanya sekadar urusan pribadi, tetapi juga komitmen hidup yang tercermin dalam kejujuran, keadilan, dan keutuhan kasih di dalam keluarga serta sesama.

KJ 450:1 “Hidup Kita yang Benar”

Doa :
Ya Allah Bapa yang Mahakasih, terima kasih atas penyertaan-Mu yang selalu mengingatkan kami untuk hidup setia di hadapan-Mu. Ampunilah kami jika terkadang masih lalai dan tidak menjaga komitmen kasih dalam keluarga maupun kehidupan sesama. Mampukanlah kami melalui Roh Kudus-Mu untuk menjadi pribadi yang adil, bersih, dan jujur. Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus, kami berdoa. Amin. [ThS]

Categories: Terang Hidup

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *